#mesuji

Posisi Tawar Petani Padi Mesuji Lebih Rendah Ketimbang Pembeli Gabah

( kata)
Posisi Tawar Petani Padi Mesuji Lebih Rendah Ketimbang Pembeli Gabah
Seorang petani di Mesuji Timur menanam padi untuk kemudian dijual kembali gabahnya, Jumat, 27 Mei 2022. (Lampost.co/Ridwan Anas)


Mesuji (Lampost.co) -- Posisi tawar petani padi di Kabupaten Mesuji lebih rendah ketimbang pembeli gabah. Mereka tidak bisa melakukan tawar menawar dengan para pembeli gabah atau tengkulak. Hal itu terjadi karena petani tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan gabah mereka dengan waktu lama.


Santo, petani asal Wonosari, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, mengatakan dia bersama petani lain terpaksa mau menjual gabah dengan harga rendah seperti yang ditawar oleh para pembeli atau tengkulak. 

"Jika kami tahan untuk menunggu penawar dengan harga bagus, gabah bisa busuk. Sedangkan alat pengering gabah di Mesuji Timur sangat terbatas. Selama ini kami andalkan mesin rice milling plant (RMP), namun saat ini sedang rusak," jelasnya ditemui di rumahnya, Jumat, 27 Mei 2022.

Menurut Santo, dengan rendahnya harga gabah, mereka tidak bisa melunasi hutang-hutang terhadap para pemodal. 

"Jadi, setiap kali panen, kami hanya bisa melunasi hutang yang kami buat di masa tanam dan memupuk. Sisanya untuk hidup sehari hari. Jika tanam lagi, kami ngutang lagi untuk pupuk, begitu seterusnya," kata Fajar, rekan Santo.

Menurutnya, jika petani bisa menjual berbentuk beras, sebenarnya penghasilan petani akan meningkat dua kali lipat. 

Baca juga: Puluhan Petani Palas Dibekali Ilmu Kelembagaan Ekonomi

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mesuji, Hendra, mengatakan mesin RMP yang terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Mesuji Timur, sudah rusak dua bulan lamanya. Perbaikan mandek karena sulitnya untuk mendapatkan onderdil. 

"RMP dijalankan oleh Koperasi Mesuji Agro Lestari yang Anggotanya terdiri dari 8 Gapoktan di Mesuji timur, Mesuji, Rawajitu Utara. Saat ini rusak mesin penggilingan atau pecah kulit, alatnya belum dapat. Sudah beli alat hingga 3 kali, tidak cocok semua," ujar Hendra.

Dia melanjutkan kapasitas RMP hanya 8 ton per proses pengeringan yang berjalan 1 hari lamanya. Sedangkan giling berkapasitas 1 ton per jam. 

"Untuk RMP, di Kecamatan Rawajitu Utara sedang proses dibangun dengan skala seperti di TMP di Wonosari. Tahun ini kami dapat lumbung pangan desa lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik, salah satu paketnya penggilingan padi. Mekanismenya dikelola Gapoktan. Untuk 4 Gapoktan dengan total nilai Rp4 Miliar untuk 5 item. Rp580 juta dikelola Gapoktan untuk rumah lumbung, rumah rice milling unit (RMU), dan lantai jemur. Sedangkan alat RMU dan dryer semuanya E-Katalog," papar Hendra. 

Dia mengakui kapasitas RMP yang dimiliki jauh dari mencukupi. Akibatnya, petani Mesuji yang hampir 100% tidak memiliki tempat menjemur gabah, harus mau dibeli dengan harga rendah.

"Sebenarnya ada harga terendah untuk pemerintah membeli gabah petani, namun itu hanya berlaku bagi pemerintah. Untuk pembeli gabah petani, itu berlaku hukum pasar. Rata-rata beras Mesuji keluar ke Sumatera Selatan dan Metro Lampung," kata Hendra. 

Terakhir harga gabah kering panen (GKP) di Mesuji paling rendah adalah Rp2800 per kg dan harga tertinggi ada di kisaran Rp4000.

 

Wandi Barboy








Berita Terkait



Komentar