komnasham

Polri Bentuk Tim Khusus Tindaklanjuti Temuan Komnas HAM

( kata)
Polri Bentuk Tim Khusus Tindaklanjuti Temuan Komnas HAM
Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono. (MI/Fransisco Carolio Hutama Gani)


Jakarta (Lampost.co) -- Polri bakal menindaklanjuti temuan dan rekomendasi dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terkait kasus penyerangan FPI terhadap Polisi di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek. 

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyebut, Polri membentuk Tim Khusus (Timsus) yang terdiri dari Bareskrim Polri, Divisi Hukum Polri, dan Divisi Propam Polri untuk menyelidiki temuan Komnas HAM soal dugaan pelanggaran HAM anggota polisi kepada empat Laskar FPI. 

"Kapolri Jenderal Idham Azis merespon dengan menginstruksikan membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti temuan dari Komnas HAM," ucap Argo, Jumat, 8 Januari 2021. 

Argo mengatakan, Tim Khusus tersebut akan menindaklanjuti temuan Komnas HAM secara profesional dan terbuka kepada masyarakat.

"Tentunya Tim Khusus ini akan bekerja maksimal, profesional dan terbuka dalam mengusut oknum anggota polisi terkait kasus itu," terang Argo. 

Argo menerangkan, Komnas HAM menemukan penembakan yang dilakukan oleh Polri dan dilakukan oleh petugas lapangan dan tanpa perintah atasan.

Sehingga, Komnas HAM merekomendasikan dibawa ke peradilan pidana sesuai UU No. 39 Tahun 1999 bukan ke Pengadilan HAM menurut UU No. 26 Tahun 2000. 

Polri pun menyatakan pihaknya akan mengusut terkait adanya kepemilikan senjata api yang diduga digunakan oleh laskar FPI dalam peristiwa penyerangan FPI terhadap polisi di Jakarta-Cikampek di KM 50. 

Hal itu menanggapi temuan Komnas HAM yang menyatakan adanya baku tembak antara laskar FPI dan polisi. "Ya (usut kepemilikan senpi laskar FPI," ucap Argo.

Dalam temuan tersebut, Komnas HAM menemukan FPI melakukan pencegatan dan memepet mobil polisi sehingga terjadi baku tembak.

Hasil investigasi Komnas HAM juga menemukan tujuh proyektil. Dua di antaranya identik dengan senjata non-rakitan.

"Dari tujuh barang bukti yang diduga bagian dari proyektil peluru dinyatakan dua barang bukti bukan bagian dari proyektil dan lima barang bukti merupakan bagian dari proyektil. Dari lima tersebut, dua identik dengan senjata non-rakitan, satu dari gagang cokelat dan satu tidak bisa diidentifikasi sementara tiga tidak bisa diidentifikasi jenis senjatanya karena kondisi perubahan yang besar atau deformasi," papar Ketua Tim Penyelidikan Komnas HAM Choirul Anam. 

 

Media Indonesia







Berita Terkait



Komentar