#kejahatan#Aborsi

Beberapa Dokter Kasus Aborsi 'Senen' Diburu

( kata)
Beberapa Dokter Kasus Aborsi 'Senen' Diburu
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus. Foto: Medcom.id/Siti Yona


Jakarta (Lampost.co) -- Polisi tengah mengejar tersangka lain dalam kasus klinik aborsi ilegal di Jalan Paseban Raya, Senen, Jakarta Pusat. Beberapa dokter dimasukkan ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Kita akan kembangkan lagi, karena kita dapat informasi ada beberapa dokter yang lakukan aborsi di bawa ke klinik itu sementara itu klinik ilegal," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu, 15 Februari 2020.

Yusri mengatakan, informasi itu didapat dari tersangka MM alias dokter A. MM merupakan otak dari praktik aborsi di klinik itu. Dia yang menyediakan tempat seperti rumah, tempat tidur pasien, alat vakum, alat operasi, alat USG dan obat aborsi.

"Rumah dia sewa tiga tahun dengan harga Rp175 juta per tahun," ujar Yusri.

Klinik aborsi ilegal itu telah beroperasi selama 21 bulan atau sejak 2018. Sebanyak 1.632 pasien telah mendaftar dan 903 telah melakukan aborsi. Keuntungan bisnis bejat itu mencapai Rp5,5 miliar.

Subdit Sumber Daya Lingkungan (Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap klinik aborsi ilegal pada Senin, 10 Februari 2020. Tiga tersangka diamankan.

Ketiga tersangka itu, yakni seorang dokter berinisial MM, bidan berinisial RM dan tenaga administrasi berinisial SI. Ketiga tersangka merupakan residivis dan kini telah ditahan di rumah tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya.

Mereka dijerat Pasal 83 Juncto Pasal 64 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) Undnag-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Juncto Pasal 55, 56 KUHP. Dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara.

Abdul Gafur







Berita Terkait



Komentar