#peristiwa#tembakaugorila
Tembakau Gorilla

Polisi Didesak Tangkap Penjual Tembakau Gorila

( kata)
Polisi Didesak Tangkap Penjual Tembakau Gorila
dok Lampost.co

JAKARTA (Lampost.co) -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak polisi segera menangkap penjual tembakau gorila kepada tiga siswa SMP di Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Keberadaan tembakau gorilabisa merusak masa depan para anak didik.

"Ini kalau sudah membahayakan anak kemudian situasinya darurat sampai teler seperti itu polisi harus punya political will untuk mengidentifikasi dan mengusut siapa yang menjual," kata Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah kepada Medcom.id, Sabtu, 30 November 2019.

Menurut dia, hingga saat ini tembakau gorila masih sulit diungkap lantaran permasalahan kejelasan di perundang-undangan. Namun, polisi tak boleh tutup mata. Setidaknya, kepolisian bisa bertindak dengan alasan pelanggaran standar mutu penjualan makanan.

"Karena kalau dalam penjualan makanan di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) ini sudah menyalahi salah satunya. Jangan berfokus hanya berfokus kepada Undang-Undang Narkoba (UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika)," ujar Ai.

Ai mengatakan tubuh anak di bawah umur sangat rentan jika mengkonsumsi hal membahayakan seperti tembakau gorila. Untuk itu, dia meminta kasus ini dibongkar agar tidak menjadi permasalahan serius untuk anak di Indonesia ke depan.

KPAI, kata dia, segera mengirimkan tim untuk memantau tiga bocah yang teler di Manggarai. Pihaknya akan memastikan mereka mendapatkan rehabilitasi sosial agar tidak mengulangi hal serupa.

"Ini namanya anak korban sebuah penyalahgunaan obat dan makanan, ini sangat butuh penanganan," tegas dia.

Tiga pelajar SMP FP, 15; RA, 15; dan IP, 14, ditemukan teler berat di Manggarai, Rabu, 27 November 2019. Mereka kehilangan kesadaran usai mengonsumsi tembakau gorila.

Awalnya, warga melihat lima pelajar berkumpul di sebuah rumah. Saat dihampiri warga, dua orang melarikan diri dengan terhuyung-huyung. FP, RA, dan IP tidak bisa kabur lantaran teler.

Tembakau gorila sempat menjadi sorotan pada Oktober 2015. Barang ini dijual melalui media sosial dengan kisaran harga Rp200-Rp400 ribu.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut tembakau cap gorila mengantung zat AB-CHMINACA. Zat kimia ini dapat menyebabkan halusinasi.

"Zat itu memiliki sifat kanabinoid," kata Kepala Humas BNN kala itu, Kombes Selamet Pribadi, kepada Medcom.id.

Menurut dia, zat kimia ini bahan sintesis yang dibuat untuk meniru efek halusinasi milik ganja. Bisa dibilang, tembakau gorila adalah ganja sintesis.

"Ganja palsu. Efeknya juga sama dengan ganja. Dari testimoni, si pemakai merasa ketimpa gorila," ungkap dia.

Pemakaian ganja cap gorila dapat menurunkan kinerja otak. Jika dikonsumsi secara berlebihan, pemakai menjadi ketergantungan.

Bambang Pamungkas

Berita Terkait

Komentar