#aborsi#tersangkaborsi

Polisi Dalami Pelaku Aborsi Lainnya

( kata)
Polisi Dalami Pelaku Aborsi Lainnya
Kasatreskrim Polresta Bandar Lampung Kompol Harto Agung Cahyono, saat menunjukkan barang bukti milik dukun aborsi Suminem di Mapolres Bandar Lampung, Selasa (8/5/2018). (Lampost.co/Asrul)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Bandar Lampung, masih melakukan pendalaman terhadap dugaan adanya tersangka lain selain S dan A, yang merupakan pasien dukun aborsi Suminem alias Mbah Sempok yang telah dibekuk pada Jumat (4/5/2018) yang lalu.

Kasatreskrim Polresta Bandar Lampung Kompol Harto Agung Cahyono mengatakan pendalaman tersebut berdasarkan pengakuan Mbak Sempok bahwa selama tiga tahun belakangan mulai menjadi dukun aborsi, ada 30 pasien yang sudah datang kepadanya. "Masih kita dalami, potensi tersangka lain ada," ujarnya kepada Lampost.co, Kamis (10/5/2018).

Namun penyidik masih mengalami kesulitan, karena Mbah Sempok sama sekali tidak mengetahui dan mengingat atau melakukan pencatatan secara rinci identitas pasiennya. "Kita masih cari, gali keterangan Mbah Sempok, sambil cari data lain di kediamannya, dan baket yang ada," kata mantan Kapolsek Tanjungkarang Barat itu.

Informasi pun juga dikumpulkan dari orang-orang sekitar Mbah Sempok, dan juga mencari informasi adanya dugaan klinik atau panti pijat, yang didalamnya terdapat praktek aborsi. "Kita masih terus dalami," kata Alumnus Akpol 2005 itu.

Sementara Mbak Sempok dan dua mahasiswa Unila yang menjadi tersangka, masih dalam proses penyidikan dan pembuatan berkas perkara. "Perkara maju terus, cuma yang dua mahasiswa/i enggak ditahan, ancaman dibawah 5 tahun," katanya.

Sosiolog Unila Bartoven Vivit Nurdin mengatakan, banyak faktor tingginya percobaan aborsi di kalangan mahasiswa. Mulai dari tingginya akses konten pornografi dengan semakin majunya sosial media dan internet, juga minimnya pengawasan dari orang tua, sehingga pola hidup hedonisme dan pergaulan bebas kian marak.

"Teknologi dan informasi enggak bisa dibendung, makanya pergaulan bebas, kian marak, dan aborsi itu seakan-akan biasa, padahal wanita yang jadi korban. Selain membunuh janin, karena bukan SOP medis, si pasien juga bisa meninggal," kata Dosen Fisip Unila itu.

Menurutnya perlu ada sinergitas antara keluarga, orang tua, lingkungan tempat tinggal dan indekos, hingga pihak kampus sendiri, untuk memberikan benteng-benteng berupa pedoman etika norma susila, dan juga kegiatan keimanan, sehingga mahasiswa/ jauh dari hal-hal tersebut.

"Memang kalau di kampus kan sifatnya pendidikan orang dewasa, jadi mereka dianggap sadar. Makanya peran ortu dan keluarga itu jadi utama," katanya.

 

Asrul Septian Malik







Berita Terkait



Komentar