#internasional#beritainternasional

PM Inggris Kembali Lolos dari Mosi Tidak Percaya

( kata)
PM Inggris Kembali Lolos dari Mosi Tidak Percaya
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. AFP


London (Lampost.co) -- Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berhasil lolos dari mosi tidak percaya pada Senin, 6 Juni 2022 malam waktu setempat. Ia lolos dari 148 suara anggota parlemen yang memilih untuk menggulingkannya dari Downing Street. Ini mosi tidak percaya kali kedua yang dihadapi PM Johnson di tahun 2022.


PM Johnson berhasil selamat lewat dukungan 211 anggota parlemen, walau 41 persen anggota Partai Konservatif memilih untuk menyingkirkannya. Banyak yang menilai ia kehilangan kepercayaan publik setelah skandal pesta saat pembatasan covid-19 di tahun 2020.

Baca juga: PM Inggris Terancam Mosi Tidak Percaya untuk Kedua Kali pada 2022

Meski PM Johnson dan sekutunya mengeklaim kemenangan, banyak anggota parlemen Partai Konservatif Inggris atau Tory, termasuk beberapa pendukungnya, meyakini percobaan kudeta itu awal dari akhir tiga tahun jabatan sang perdana menteri.

Dengan begitu banyak partai yang memilih menentangnya. PM Johnson secara efektif kehilangan dukungan mayoritasnya di parlemen. Hal ini berisiko membuat pemerintahannya lumpuh.

Dilansir dari The Guardian, Selasa, 7 Juni 2022, PM Johnson secara teoritis aman dari tantangan kepemimpinan lain selama satu tahun di bawah aturan Komite 1922. Namun, pemimpin sebelumnya, Theresa May terpaksa meninggalkan kantor hanya enam bulan setelah menang dalam mosi tidak percaya.

Proporsi anggota parlemen yang memilih menentang Johnson bahkan lebih besar dari pada suara menentang May pada 2018 dan Margaret Thatcher pada 1990. Thatcher mengundurkan diri seminggu setelah mosi tidak percaya.

"Ini hasil yang sangat bagus, positif, konklusif dan menentukan, yang akan memungkinkan kami untuk bersatu dan fokus pada pencapaian," kata PM Johnson. 

Ia mengeklaim memenangkan mandat yang jauh lebih besar dari yang dilakukan dalam pemilihan 2019. Johnson juga menolak mengesampingkan panggilan pemilihan cepat dan mengatakan tidak tertarik dengan gagasan tersebut.

James Cleverly dari Kementerian Luar Negeri Inggris menyebut hasil mosi tidak percaya sebagai kemenangan yang nyaman dan jelas untuk PM Johnson. Sementara anggota parlemen untuk Lichfield, Michael Fabricant, mengatakan hasilnya jauh lebih baik dari yang ia khawatirkan.

Namun, anggota parlemen 'pemberontak' mengatakan PM Johnson harus mundur demi kebaikan partai dan negara. Sir Roger Gale, salah satu kritikus terkemuka PM Johnson, mengatakan 'perdana menteri kehormatan' harus menyadari ia kehilangan dukungan dari sejumlah besar anggota parlemennya. Ia menyarankan para 'pemberontak' untuk terus menentang PM Johnson.

 

 

 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar