#Opini#Sistem#Zonasi#Pendidikan

Plus-Minus Sistem Zonasi

( kata)
Plus-Minus Sistem Zonasi
Ilustrasi Sistem Zonasi PPDB. (Dok.Lampost.co)

PROSES penerimaan siswa baru di sekolah telah berlalu beberapa bulan lalu. Dalam periode ini, sekolah menggunakan cara baru dalam penerimaan siswa baru yang berbeda dengan cara sebelumnya. Pada periode ini sekolah menggunakan sistem zonasi.

Pada cara ini, tempat tinggal siswa akan berpengaruh terhadap nilai yang bersangkutan. Semakin dekat tempat tinggal calon siswa, semakin besar tambahan nilai bagi yang bersangkutan. Kriteria zonasi yang digunakan terbagi menjadi (1) jarak 0 sampai 1.000 meter tambahan nilai 400, (2) lebih dari 1.000 sampai 2.000 meter tambahan nilai 375, (3) lebih dari 2.000 sampai 3.000 mendapat tambahan nilai 350, dan seterusnya (Juknis PPDB 2018). Dengan demikian, semakin jauh jarak tempat tinggal, semakin sedikit tambahan nilai.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, zonasi merupakan salah satu strategi percepatan pemerataan pendidikan yang berkualitas (beritasumut.com, 3 Juni 2018). Sisi baik dari sistem zonasi adalah mampu mengurangi kepadatan lalu lintas dan hubungan sekolah dengan lingkungan akan lebih terjalin.

Dengan sistem zonasi, peluang calon siswa untuk diterima di sekolah akan semakin besar bila jarak tempat tinggal ke sekolah semakin dekat. Begitupun sebaliknya, jika jarak tempat tinggal ke sekolah makin jauh, makin kecil kemungkinan diterima.

Dengan banyaknya siswa yang berdomisili di tempat yang relatif dekat dengan sekolah, saling berpapasan kendaraan di jalanan menjadi berkurang. Dampak lebih lanjut dari hal ini, jelas akan mengurangi biaya transportasi, sehingga akan berpengaruh positif di bidang ekonomi.

Dengan kebanyakan populasi siswa berasal dari lingkungan dekat sekolah, diharapkan rasa memiliki sekolah lebih tinggi. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa akan lebih intensif. Dengan hubungan yang intensif tersebut, kelebihan dan kekurangan banyak hal yang berkaitan dengan pembelajaran akan lebih cepat dicari solusinya.

Rasa malu dari masyarakat atau dari pihak sekolah bila ada masalah yang berlarut-larut tentu akan membayangi karena mudahnya komunikasi. Dengan begitu, masyarakat akan lebih merasa bertanggung jawab terhadap kebaikan di sekolah yang ada di wilayahnya. Keadaan ini dapat digunakan sebagai modal untuk membentuk hubungan yang harmonis antara sekolah dengan masyarakat di sekitar sekolah.

Sisi Minus Zonasi

Ternyata, selain memiliki sisi positif, sistem zonasi ini juga melahirkan sisi minus. Dengan tambahan nilai berdasar indeks jarak tempat tinggal ke sekolah, tingkat kompetisi kemampuan akademik antara calon siswa yang berada di zona berbeda menjadi lebih tertutup. Calon siswa dengan nilai akademik di SMP yang lebih rendah dapat mengalahkan calon siswa yang memiliki nilai akademik yang lebih tinggi bila jaraknya lebih dekat.

Secara yuridis, bila memperhatikan UUD 45 Pasal 31 Ayat (1), kebijakan zonasi tidak memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Dengan sistem zonasi yang berbasis wilayah, kuantitas siswa lebih karena jarak yang dekat. Hal ini secara masukan/input siswa menjadi semakin kurang kualitasnya.

Sebagaimana sebuah lembaga yang berproses untuk menghasilkan sebuah produk, kualitas input sangat berpengaruh terhadap kualitas produk. Setelah dievaluasi sekalipun, secara informal dan dikomparasikan dengan rekan-rekan guru yang secara langsung terlibat dengan pembelajaran di kelas, menunjukkan penurunan dalam kemampuan menguasai materi pembelajaran. Keadaan ini dapat memicu penurunan kualitas lulusan. Dari paparan itu, kemungkinan beberapa dampak negatif yang akan ditimbulkan.

Adanya dampak negatif bukan berarti kebijakan itu harus dibuang, melainkan mesti mempertimbangkan dampak positif yang lebih besar dari dampak negatifnya, sehingga perlu diupayakan solusi untuk menghilangkan atau mengurangi dampak negatifnya.

Hal yang bisa digunakan sebagai solusi atas dampak negatif tersebut adalah dengan meningkatkan keterampilan guru dan tenaga kependidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Penguasaan metode dan pendekatan harus lebih ditingkatkan bagi guru sebagai pendidik.

Dengan demikian, siswa yang lebih bervariasi kemampuan akademik awal akan terkelola dengan maksimal. Kemudian pembelajaran dengan menggunakan unit kegiatan belajar mandiri (UKBM) dapat lebih memfasilitasi siswa dengan kemampuan bervariasi.

Siswa yang berkemampuan lebih cerdas dapat lebih cepat menyelesaikan tiap unit pembelajaran, sedangkan siswa yang kemampuannya lebih rendah mendapatkan waktu yang lebih longgar untuk menyelesaikan satu unit pembelajaran. Dengan demikian, metode pembelajaran klasikal tidak tepat digunakan dalam kelas, sedangkan bagi birokrat perlu memikirkan cara terbaik dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan profesional guru.

 

 

Sugiyono/Guru SMA Negeri 1 Metro

Berita Terkait

Komentar