persalinandinkes

Pihak Klinik Turunkan Biaya Persalinan Jadi Rp11,5 Juta

( kata)
Pihak Klinik Turunkan Biaya Persalinan Jadi Rp11,5 Juta
Leti Safari, saat dikunjungi Kadiskes Provinsi Lampung, Reihana, jumat 16 oktober 2020.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana menyambangi klinik Pratama Ar Raihan Husada di Way Kandis pada Jumat 16 Oktober 2020.

Kedatangannya, guna mengetahui kronologi adanya biaya persalinan Caesar Leti Safari, yang tarifnya sampai Rp16,5 juta, sehingga membuat suami Leti Agung Akbar kebingungan, dan menyebut istri dan bayinya tertahan.

Kemudian, dari hasil kunjungan Reihana, diketahui kalau pihak keluarga dan pihak Klinik AR Raihan Husada, sudah melakukan komunikasi pada kamis 15 oktober 2020 malam. Hasilnya diberi pengurangan biaya, dan keluarga membayar Rp, 11,5 juta yang berasal dari biaya persalina Cesar dari RS DKT Bandar Lampung, dan biaya selama perawatan di Klinik tersebut, bukan Rp. 16,5 juta seperti yang diminta awal.

Bidan Inon, dari pihak Klinik tersebut berdalih tarif Rp. 16,5 juta yang dibebankan ke pasien, hanya untuk menakut-nakuti. Agar ada itikad dan upaya dari keluarga pasien, untuk melunasi biaya persalinan, karena tak ada kejelasan darinya terkait waktu pelunasan, atau uang sementara yang dimiliki suami pasien.

"Biar dia upaya ada berapa, kalau bapak enggak cepet-cepet ini udah berapa hari, kalau ditotal-total sampai Rp. 16,5 juta maksud dia orang (pihak Klinik)," ujarnya jumat 16 Oktober 2020.

Bidan Inon menyebutkan rician Rp11,5 juta tersebut yakni biaya persalinan Rp5,6 juta di RS DKT Bandar Lampung, dan biaya rapid tes serta penindakan lainnya di RS DKTRp 1,3  juta. Sisanya, biaya perawatan selama  beberapa hari di Klinik Ar Raihan, seperti obat-obatan, ganti balutan, perawafan dan lain-lain jika dihitung Rp. 4,6 juta, biaya lainnya seperti susu dan pampers, digratiskan oleh pihak klinik.

"Toh saya ngomong ke bapak itu (Agung Akbar) adanya berapa yang penting dilunasi dulu di Rumah Sakit, kalau di sini (Klinik) enggak usah dipermasalahkan, tapi kata bapaknya jawab ia bu tunggu dulu, Dia juga awalnya ngaku kerja di perusahaan, dan menyerahkan sepenuhnya ke kami, dan kita juga sudah tahu enggak bisa pakai bpjs segala macam ini harus umum karena dia juga bpjs 6 tahun enggak diiniin (aktif), sementara tindakan harus segera dilakukan, dia ngomong embak (saya) kan bidan biar, embak yang tanggung jawab, yang terbaik aja nanti saya urusannya sama ibu aja di klinik, ada surat pernyataan juga, menyerahkan sepenuhnya ke saya (klinik)," paparnya.

Ia memaparkan, kalau pasien datang dan hendak menjalani persalinan pada Kamis 8 Oktober 2020 malam, dan mendapat penanganan awal, hingga jumat dini hari. Suami pasien mengaku bekerja di perusahaan dan mengajukan proses persalinan umum, tidak menggunakan BPJS.

"Datang pas bukaan ke 5, kemudian kita tangani sampai dua jam, cuma enggak ada kemajuan, saya panggil bapak (suaminya), kita usahakan normal tapi enggak ada kemajuan, gimana kalau kita rujuk, kata bapaknya yang terbaik aja, nah saya biasanya rujuk ke RS DKT, yang terbaik aja kata bapaknya," paparnya.

Saat pendaftaran suami pasien tidak bisa menggunakan BPJS, dan KTP nya bukan Lampung, tapi OKI Sumatera selatan dan masa aktif ktp sudah mati.

"Karena istrinya sudah menjeri kesakitan, saya rembukan lagi sama suaminya, karena enggak bpjs biasanya bisa kalau (asal Bandar Lampung) saya alihkan ke RD A. Dadi Tjokrodipo atau RSUD karena biasanya pake Jampersal. Karena di RS DKT harus pake umum (keadaan mendesak), saya paparkan juga kalau umum biasanya bianya berapa, dia bilang enggak papa,nanti saya minjam di tempat kerja saya kata suaminya, karena saya tahu suaminya saat itu cuma pegang uang Rp. 200 ribu," paparnya.

Terkait membawa kembali bayi dan ibunya ke Klinik dari RS DKT, karena paska operasi klinik AR Raihan berkoordinasi dengan RS DKT terkait estimasi biaya, apalagi saat proses cesar menggunakan ruangan kelas I, karena kelas III penuh.

"Jadi kata kawan di DKT kayaknya dari pada mahal, belum tentu pasiennya (sanggup), enak rawa di rumah aja sih, di klinik, waktu saya mau tebus (biaya Cesar), suaminya enggak punya uang sama sekali, sedangkan kita harus bayar, jadi dia serahkan ke saya aja, nanti dia selesaikan sama saya di klinik," paparnya.

Kemudian setelah tiga hari dirawat di Klinik paska melahirkan pihak Klinik kembali memanggil suami pasien untuk pembiayaan. Ia pun mengklaim tak menahan pasien dan anak, karena sang suami menurutnya masih mencari uang.

"Dia jawabnya nanti cari pinjaman, besok kita tanya lagi, dia enggak pernah ada terlontar berapa uang yang ada, yang penting biaya di RS  DKT dulu, tapi tiap kita tanya, selalu menghindar," paparnya.

Sementara Agung Akbar memaparkan, kalau sudah ada koordinasi dengan pihak rumah sakit, dan ditentukan besaran biaya Rp11, 5juta.

"Ia ini sedang usaha, untuk melunasi," katanya,  Jumat 16 Oktober 2020.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar