#Covid-19#LimbahMedis#SumberInfeksi#petuhasKebersihan

Petugas Kebersihan Rentan Terinfeksi Virus Covid-19

( kata)
Petugas Kebersihan Rentan Terinfeksi Virus Covid-19
Petugas kebersihan mengangkut sampah tanpa menggunakan APD atau sarung tangan. (Foto:MTVL/Putri Purnama)


Bandar Lampung (Lampost.co)--Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung mengeluarkan data timbunan sampah infeksius (Limbah B3) sejak Januari hingga Juli 2021 sebanyak 104,9 ton.

Sampah sebanyak itu merupakan akumulasi dari sampah medis rumah sakit hingga pasien isolasi mandiri (isoman) di rumah atau tempat isolasi terpadu (isoter) di daerah. 

Seratusan ton sampah itu, menurut Ketua IDI Kota Bandar Lampung, petugas kebersihan menjadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi virus covid-19.

“Sampah makser sekali pakai dari sektor rumah tangga mengalami peningkatan di tengah pandemi covid-19, petugas kebersihan dan pemulung menjadi sangat  rentan. Itu karena banyak dari mereka yang belum mengenakan alat pelindung diri (APD), masker, dan sarung tangan ketika bekerja,” ujar Ketua IDI Bandar Lampung, dr. Aditya M. Biomed, Minggu, 5 September 2021.

Aditya mengatakan mereka berpotensi terinfeksi covid-19 karena saat ini banyak ditemukan masker sekali pakai, botol bekas hand sanitizer dan disinfektan, tisue, hingga limbah hasil rapid dalam sampah rumah tangga yang berpotensi jadi tempat penyebaran virus.

“Sekarang kalau misalnya ada OTG (orang tanpa gejala) dia nggak tahu kalau di dal tubuhnya ada infeksi virus pakai masker medis sekali pakai, lalu dibuang di tempat sampah biasa. Itu virus akan berpotensi menularkan ke petugas kebersihan yang mengangkut,” ujarnya. 

Pengelolaan limbah infeksius (limbah B3) lanjutnya, yang bersumber dari rumah tangga berpedoman pada Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 2 Tahun 2020, tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan covid-19.

“Tapi tidak semua orang tahu dan membaca SE itu, pemerintah harus lebih aktif lagi dala edukasi hal-hal seperti itu,” kata dia. 

Aditya mengatakan peran masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah limbah medis. Peran dari masyarakat dalam pengelolaan limbah medis yang bisa dilakukan misalnya melakukan upaya pengurangan sampah dengan menggunakan masker pakai ulang dari bahan kain tiga lapis dalam rangka mengurangi timbulan sampah.

“Apabila menggunakan masker sekali pakai maka sebelum dibuang ke tempat sampah
dilakukan: penyemprotan menggunakan desinfeksi berupa desinfektan, klorin, atau cairan pemutih dan merusak masker dengan cara dirobek atau digunting,” ujarnya.

Sri Agustina







Berita Terkait



Komentar