#pakanternak

Peternak Unggas di Candipuro Khawatirkan Peredaran Bekatul Merang

( kata)
Peternak Unggas di Candipuro Khawatirkan Peredaran Bekatul Merang
Ilustrasi. Dok. Lampost.co


Kalianda (Lampost.co) -- Meski memiliki nilai ekonomi, keberadaan merang giling yang dibuat menjadi bekatul dikhawatirkan para peternak di Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan. Sebab, menurut para peternak unggas di kecamatan setempat, banyak beredar bekatul atau dedak yang berbahan dasar dari merang atau kulit padi.

Pembeli harus teliti sebelum membeli dedak asli atau merang giling karena dikhawatirkan berdampak buruk jika diberikan kepada hewan ternak. Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, dedak dari merang jika dilihat secara langsung hampir mirip dengan bekatul, hanya terdapat perbedaan apabila dipegang dengan tangan. Tekstur bekatul dari merang sedikit kasar dibandingkan yang asli.

Sedangkan dari harga memiliki perbedaan yang cukup signifikan karena dedak berbahan merang hanya Rp1.000/kg, sedangkan yang asli kisaran Rp2.000—Rp3.000/kg. "Harga bekatul merang jauh lebih murah dari yang asli," kata Parjono (55), salah seorang peternak unggas di Kecamatan Candipuro, Minggu, 19 Januari 2020.

Dia menjelaskan pernah membeli dedak berbahan merang karena sebelumnya tidak tahu, setelah itu tidak pernah diberikannya lagi ke ayam peliharaannya. "Setelah tahu saya tidak berikan lagi takut kenapa-kenapa," ujarnya.

Pemilik penggilangan padi yang mengolah merang menjadi dedak atau bekatul kebanyakan tidak menjual ke masyarakat umum atau peternak sekitar. "Mereka tidak menjual bebas, pada waktu saya membeli karena kepepet jadi setengah maksa," kata dia.

Konon, produksi massal dedak merang yang dilakukan pemilik penggilingan untuk dikirim ke perusahaan pakan ternak di Kecamatan Tanjungbintang. "Informasinya dikirim ke pabrik pakan ternak," kata dia.

Hal senada diungkap peternak lain, apabila dedak dari merang dijual sebagai bekatul, itu perbuatan curang pengusaha penggilingan. "Ini kan jadi sesuatu yang enggak beres," ujar Sudirno (49).

Para petani setempat berharap pihak terkait turun ke lokasi mengecek mengenai keberadaan merang yang dibuat bekatul. "Kami berharap pihak terkait bisa melihat langsung dan bisa memberikan informasi dampak bagi ternak," ujarnya.

Muharram Candra Lugina






Berita Terkait



Komentar