#pmk#lampungtimur

Peternak di Lamtim Keluhkan Penurunan Penjualan Sapi

( kata)
Peternak di Lamtim Keluhkan Penurunan Penjualan Sapi
Peternak sapi di Desa Kedaton ll, Sukirno, saat diwawancarai di lokasi peternakannya, Sabtu, 9 Juli 2022. (Foto : Lampost.co/Arman Suhada)


Sukadana (Lampost.co) --  Pedagang sapi di Lampung Timur (Lamtim) mengeluhkan penurunan penjualan sapi akibat dampak penyakit mulut dan kuku (PMK). Penjualan sapi menurun hingga 30 persen ketimbang tahun lalu. 
 
Peternak sapi di Desa Kedaton ll, Kecamatan Batangharinuban, Sukirno, mengungkapkan penurunan tersebut karena adanya wabah dari PMK. 

"Kalau tahun lalu saya bisa menjual hingga 100 ekor sapi dalam setahun, namun tahun ini saya menjual 70 sapi saja. Turunnya sampai 30 persen lebih. Padahal, ini menjelang hari raya Iduladha. Kalau per ekor itu Rp20 juta, berarti sekitar Rp600 jutaan kami mengalami penurunan," kata Sukirno saat diwawancarai di lokasi peternakannya, Sabtu, 9 Juli 2022.

Baca juga: Lamtim Masih Nol Kasus PMK

Dia melanjutkan adanya PMK juga membuat pembeli harus ekstra waspada. Pembeli lebih detail dalam memilih sapi yang akan dibeli agar mendapatkan sapi yang sehat. Harga sapi milik Sukirno berkisar antara Rp18 juta hingga Rp30 juta per ekor menyesuaikan ukuran. Dia berharap masalah wabah PMK ini segera diselesaikan oleh pemerintah.

"Harapannya ke depan, PMK ini bisa cepat hilang dari peternakan sapi Indonesia," pungkasnya.

 

Wandi Barboy






Berita Terkait



Komentar