#tulangbawang

Petani Tuba Keluhkan Kelangkaan Solar yang Hambat Panen Raya

( kata)
Petani Tuba Keluhkan Kelangkaan Solar yang Hambat Panen Raya
Petani di Kampung Sumberagung, Kecamatan Rawapitu, Tulangbawang,menurunkan gabah dari mesin panen, Senin, 4 April 2022. (Lampost.co/MTVL/Rahman Wijayanto)


Menggala (Lampost.co) -- Memasuki panen raya serentak yang luasan tanam mencapai ribuan hektare padi milik petani di Kampung Sumberagung, Kecamatan Rawapitu, Tulangbawang, hingga tiga pekan ke depan para petani mengeluhkan kelangkaan dan mahalnya harga bahan bakar jenis solar yang digunakan untuk operasional mesin permanen padi. Akibatnya, panen raya terhambat dan biaya meningkat dua kali lipat kelangkaan solar dan mahalnya petani berharap ada solusi dari pemerintah. 

Petani setempat membeli solar dalam satu jeriken berisi tiga puluh liter mencapai dua ratus lima puluh ribu hingga dua ratus tujuh puluh ribu rupiah yang sebelumnya dua ratus sepuluh ribu rupiah sejak dua pekan lebih. Kondisi ini menghambat percepatan panen dan tanam para petani yang mengandalkan alat mesin panen/lokasi Kecamatan Rawapitu, Tulangbawang merupakan lokasi lumbung pangan nasional ikut serta menyumbang beras hingga lima puluh persen. 

Petani setempat, Wagiyo, mengungkapkan kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar dan mahalnya harga menghambat percepatan panen dan tanam kembali musim rendeng.

"Saya berharap kelangkaan solar ini segera berakhir. Sebab menghambat panen raya," ujar dia, Senin, 4 April 2022.

Ketua Gapoktan Sumberagung, Agung Purnomo, menjelaskan, saat ini petani memasuki panen raya dengan luasan tanam mencapai seribu empat ratus hektare lebih. Menurutnya, kondisi kelangkaan solar sangat menghambat percepatan panen raya dan tanam yang saat ini petani mengandalkan alat pertanian moderen sementara itu kondisi kelangkaan dan mahalnya solar membuat biaya membengkak.
 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar