AdvetorialUINUINlampung

Petani: Terimakasih Pak Rektor UIN, Ini Harus Jadi Contoh di Lampung

( kata)
Petani: Terimakasih Pak Rektor UIN, Ini Harus Jadi Contoh di Lampung
PARA petani penggarap lahan milik Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mengapresiasi kebijakan rektor atas pemanfaatan lahan seluas 60 hektare di Kota Baru. Dok


KALIANDA (Lampost.co) -- Para petani penggarap lahan milik Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mengapresiasi kebijakan rektor atas pemanfaatan lahan seluas 60 hektare di Kota Baru, Lampung Selatan.

Kebijakan Rektor UIN RIL Moh Mukri yang berujung pada kesepakatan itu dinilai menjadi win-win solution penggarapan lahan tanpa konflik dan menjadi model pemecahan masalah konflik lahan di Lampung.

Salah satu penggarap lahan UIN RIL Titin Uun Irawati menjelaskan, para petani penggarap dibina, diarahkan, dan diajak musyawarah kekeluargaan dari hati ke hati sehingga petani merasa nyaman dan aman menggarap di atas lahan UIN RIL seluas 60 Ha.

"Kita juga silaturahmi ke UIN didampingi pak Solikhin di sambut dengan baik dan bikin kami terharu. Petani seperti kami di wongkan oleh kampus terbesar di Lampung ini," ujar Titin di lokasi lahan UIN.

Menurut Titin, jika pola begini yang dilakukan oleh yang lainya pasti tidak ada lgi korban penggusuran, pengrusakan dan merugikan petani.

"Dan ini lah pelopor terbaik yang dilakukan oleh pemegang hak tanah yaitu UIN Radin Intan," tuturnya.

Para petani pun sepakat dengan kebijakan ini dan siap mematuhi apa yang menjadi kesepakatan bersama dan tanpa syarat karena konsep kekeluargaan yang disepakati bersama.

"Gak konflik, ini persaudaraan pengikat kekeluargaan. Kami para penggarap cocok dengan pola ini gak ada yang dirugikan, karena kita dibina bukan mau digusur," kata Titin.

Ia menegaksan jika program ini berjalan baik maka petani penggarap lahan diuntungkan. "Dari UIN bahkan menyiapkan program beasiswa yang menggarap lahan UiN jika anaknya mau kuliah di UIN dapat beasiswa," ungkapnya haru.

Demikian juga diungkapkan penggarap lainnya, Suwadi asal Sindang Anom, Lampung Timur. "Ya ini solusi terbaik, karena mau membina para petani di sini, program ini disepakati tanpa konflik," ungkapnya.

Apalagi menurutnya lahan ini merupakan satu-satunya sumber penghidupan keluarga 70 penggarap lahan.

"Ya untuk membina petani di sini agar bisa sejahtera karena kan masyarakat di sini gak punya lahan lain. Ini satu-satunya lahan untuk menghidupi keluarga," ujar Suwadi diamini petani lainnya.

Sementara, Ketua Tim Program Jagung NU Lampung dan Mentan yang juga Pembina Pengelolaan Lahan UIN Ril Kotabaru Salamus Solikhin menjelaskan tanah kawasan di Kotabaru ini sudah lama dikuasai massa.

Kemudian, diambil alih oleh pemda dan diberikan kepada beberapa kompenen salahsatunya UIN pada 2018. Tapi lahan 60 ha itu dikuasai masyarakat. Petani tidak mau menyerahkan lahan karena itu mata pencahariaan. Akhirnya UIN tidak bisa menguasai. Massa menguasai tapi tidak punya izin.

"Akhirnya saya pada 2019 menawarkan diri untuk membina masyarakat tersebut terkait dengan bagaimana cara berdamai atau win win solution. Saya diberikan kepercayaan pada Desember 2019. Selama satu tahun saya membina dengan hati para petani. Tujuannya jangan sampai ada lagi konflik tanah di Lampung," ungkap Solikhin.

Ia bersyukur ternyata program ini berhasil. Masyarakat sepakat bekerjasama dengan UIN RIL. Lalu dibuatkan kesepakatan bersama pada awal Oktober untuk bekerjasama dan dilibatkan dalam rangka UIN memakai lahan.

"Contoh pada saat UIN akan membangun dilibatkan, sebelum dibangun boleh ditanami. Harapannya petani yang kita bina bersama koperasi serba usaha NU menjadi contoh, siapapun nanti khususnya di seputaran Kotabaru yang masih berkonflik silahkan datang ke KSU NU atau petani binaan kami di Kotabaru," jelasnya.

Ia menjelaskan kerjasama ini win win solution. Pembangunan nantinya melibatkan masyarakat sebagai pekerja. Namun sebelum dibangun silahkan bercocok tanam dan dibina untuk mendapatkan bantuan, penjualan dan lainnya. Saat ini, ada sekitar 70 petani yang menanam jagung, singkong dan padi di atas lahan UIN RIL. Saat disinggung soal kompensasi para petani, Solikhin mengatakan bila kebijakan ini untuk kesejahteraan umat bukan untuk dikomersialkan.

"Ya selama setahun ini kita lillahitala tidak semuanya harus komersil untuk menemukan satu titik kesepakatan dan kemanusiaan."

Winarko







Berita Terkait



Komentar