#ekbis#hargasingkong#beritalampura

Petani Singkong Terimbas Wabah Korona

( kata)
Petani Singkong Terimbas Wabah Korona
Pekerja mencabut singkong yang siap panen. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co): Wabah virus korona memberikan dampak pada lesunya perekonomian di Lampung. Imbas pandemi Covid-19 juga turut dirasakan para petani singkong di Lampung Utara.

"Pahit banget, harga singkong panen April 2020 ini anjlok hanya Rp950 per kilo. Padahal saya sudah menunggu mulai dari masa tanam sampai panen selama 8 bulan dan berharap harganya dari pengepul tinggi," ujar Sarwito, petani singkong di Desa Blambangan Pagar, Kecamatan Blambangan Pagar, Rabu, 8 April 2020.

Dia mengaku harga ubi kayu pada November 2019 lalu berkisar Rp1.200 per kilo. Kemudian pada Januari 2020, harga masih dikisaran Rp1.200 per kilo. Selanjutnya pada Februari 2020, turun menjadi Rp1.050 per kilo dan pada Maret 2020 sampai awal April 2020, harga kembali turun menjadi Rp950 per kilo. 

"Singkong saya sudah masuk masa panen dan itu tidak dapat di tunda lagi. Mau tidak mau saya terpaksa memanennya, selain itu khawatir harganya akan terus merosot," ujarnya. 

Sarwito mengaku secara nominal hasil panen singkongnya tidak sebanding dengan pengeluaran Dalam 1 hektare (ha) areal ubi kayu, modal yang dikeluarkan dari sewa tanah Rp7 juta/ha, upah tanam Rp700 ribu/ha, pupuk urea sebanyak 2 kwintal dengan total biaya Rp1,5 juta atau dengan harga Rp1.900 per kilo, Poska sebanyak 3 kwintal dengan total Rp1,1 juta (Rp3.400 per kilo), pupuk kandang 100 karung Rp2 juta (Rp20 ribu per karung). Di tambah upah tenaga kerja Rp700 ribu/ha, upah pemupukan Rp600 ribu/ha, upah bajak Rp600 ribu/ha, upah lajer Rp400 ribu/ha, dan bibit 150 ikat batang singkong dengan total nilai Rp1,5 juta (Rp10 ribu/ikat). 

"Modal yang mesti dikeluarkan petani singkong dari penanaman sampai panen paling tidak mesti menyiapkan dana Rp15 juta per ha," kata dia. 

Dengan harga ubi kayu Rp950 per kilo, kata dia, bila dipotong untuk ongkos cabut, angkut, dan mobil seharga Rp200 per kilo. berarti nilai bersih yang diterima petani Rp750 per kilo. Dengan produktivitas hasil panen per hektare rata-rata 25 ton.

"Hasil bersih yang di dapat petani setelah di potong biaya cabut, angkut, dan mobil sekali musim tanam diperoleh Rp18. 750.000," kata dia.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar