#pertanian#gropyokkan#Metro#britalampung

Petani Purwosari Metro Gropyokan Hama Tikus

( kata)
Petani Purwosari Metro Gropyokan Hama Tikus
Gropyokan Hama tikus di Purwosari, Metro. (Foto:Lampost/Suprayogi)

METRO (Lampost.co)--Menjelang musim tanam awal 2018 mendatang, petani di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Metro Utara melakukan tradisi membasmi hama tikus dengan cara membakar sarang atau yang lebih di kenal dengan gropyokan tikus, Kamis (30/11). 
Aktivitas membasmi binatang mengerat tersebut dilakukan dengan cara gotong royong. Para petani dibantu anggota Banser NU Kota Metro, Babinsa Koramil 411-24/ Metro Utara, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan kelompok tani daun hijau serta dibantu Lurah Purwosari.
Dalam kesempatan tersebut, Babinsa Koramil 411-24  Kuptu Didi Pondi mengatakan, bahwa tradisi gropyopok basmi hama tikus tersebut dilakukan guna memutus mata rantai perkembang biayakan hama tikus di areal persawahan.Cara gropyokan  seperti ini merupakan cara yang paling efektif, untuk membasmi tikus sawah dan mematikan polulasinya, alat gropyokan ini menggunakan belerang yang di bakar dengan menggunakan api dari tabung gas yang dimodif memakai selang, kemudian api di semprotkan kedalam lubang tikus,katanya.
Sementara itu, ditempat bersamaan Lurah Puswosari Sugiyana, yang ikut membantu gropyokan mengutarakan tradisi gropyokan pengendalian hama tikus sawah tersebut, juga dalam rangka mewujudkan program nasional, yakni pencapaian swasembada pangan 2018.
 "Secara bersamaan kita turun ke sawah membuka galengan sawah, dan mencari lubang-lubang yang menjadi sarang. Setelah menemukan lubang tikus kita lakukan pengasapan dengan belerang, agar tikus keluar dari sarangnya dan dipukuli hingga mati. Cara ini merupakan solosiuntuk mengendalikan hama tikus sawah  yang menjadi musuh utama para petani,"katanya.

Suprayogi



Berita Terkait



Komentar