Pertaniankedelai

Petani Lampura Enggan Tanam Kedelai

( kata)
Petani Lampura Enggan Tanam Kedelai
Kepala Seksi Metode dan Informasi Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian Lampura, I Made Wirata. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (lampost.co) -- Petani di Lampung Utara (Lampura) enggan untuk menanam kedelai. Sebab, kedelai lokal memiliki harga jual rendah, hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi, dan dipasaran pun kalah saing dengan produk impor.

"Saya tidak tahu pasti harga kedelai lokal sekarang. Tapi, harga dipasaran biasanya selisihnya tidak jauh dari harga kedelai impor," ujar Kepala Seksi Metode dan Informasi Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian Lampura, I Made Wirata, di ruang kerjanya, Jumat, 22 Januari 2021. 

Keengganan menanam kedelai itu ditunjukkan dari 225 gabungan kelompok tani (Gapoktan) se Lampura. Alasannya komoditas tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi. 

Program penanaman kedelai terakhir pada Desember 2017 lalu. Kegiatan penanaman kedelai varietas Anjasmara yang didanai APBN-P dari tugas perbantuan (TP) Lampung. Saat itu Lampura mendapat jatah penanaman kedelai seluas 635 hektare yang tersebar di tujuh kecamatan. 

"Saat panen raya pada program penanaman kedelai Desember 2017 lalu, petani kesulitan menjual hasil panennya. Sehingga sekitar 10 ton kedelai menumpuk di gudang. Sementara, tawaran harga dari pengepul atau tengkulak hanya Rp4.500 per kilogram--Rp5.000 per kg. 

Nilai itu tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan sekitar Rp 5 juta per ha. Sementara hasil panen hanya 8 kwintal--1 ton per ha. "Kalau dijual Rp5.000 per kg, petani tidak dapat untung, bahkan cenderung rugi," kata dia. 

Dengan kondisi itu, pihaknya mengaku pesimis terhadap program penanaman kedelai dapat dikembangkan di Lampura. Sebab, beberapa kali program yang diluncurkan Kementan itu selalu ditolak petani. "Kecuali, ada kebijakan dari pemerintah terkait harga kedelai lokal di pasaran yang menguntungkan bagi petani," kata dia.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar