#petanisayur#lampura

Petani Keluhkan Anjloknya Harga Sayur di Lampura

( kata)
Petani Keluhkan Anjloknya Harga Sayur di Lampura
Caption; Petani sayur, warga Desa Abung Jayo, Kecamatan Abung Semuli, di hamparan lahan sayuran miliknya di desa setempat, Senin, 2 Maret 2020.

Kotabumi (Lampost.co) – Petani sayur di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) mengeluhkan turunnya harga berbagai jenis sayur.  

Petani sayur, Sugito, warga Desa Abungjayo, Kecamatan Abung Semuli, mengatakan sudah dua pekan terakhir harga beberapa komoditas sayur mengalami penurunan. Akibatnya ia mengalami kerugian.

"Turunnya harga sayuran berdampak pada kehidupan kami. Bila dihitung angka perolehan penjualan hasil panen saat ini, selisihnya tidak jauh beda dengan beban biaya produksi yang mesti dikeluarkan untuk pembelian bibit, pupuk dan pestisida. Lalu, bagaimana dengan perhitungan biaya tenaga kerja selama perawatan mulai dari tanam sampai panen," ujarnya.

Menyoal penurunan harga, dia menjawab, sebelumnya harga bayam dibeli pedagang Rp1.000/ikat, sekarang turun menjadi Rp600/ikat, kacang panjang dari Rp1.000/ikat turun menjadi Rp700/ikat, sedangkan kangkung dari Rp1.000/ikat turun menjadi Rp600/ikat.

"Sekarang yang harganya masih mahal cuma cabai merah Rp45 ribu/kilo di pasaran, tapi perawatannya sangat sulit dan rentan terserang penyakit. Kalau harga sayur sekarang anjlok dan harga yang masih bertahan sawi hijau di kisaran Rp1.200/ikat dan selada air di harga Rp1.500/ikat," kata dia.

Di singgung beban produksi yang dikeluarkan, dia mengaku, menghabiskan modal untuk pembelian pupuk, bibit dan pestisida di areal lahan seluas 800 meterpersegi yang dia kelola berkisar Rp500 ribu.  Sedangkan, perolehan dari penjualan sayuran sekali  panen berkisar Rp650 ribu hingga Rp700 ribu.

"Dengan pendapatan antara Rp650 ribu hingga Rp700 ribu, sekali panen dan modal yang dikeluarkan Rp500 ribu. Kalau dihitung rugi sebab masa perawatan sayuran dari tanam sampai panen berkisar 35 sampai 40 hari, berarti harga tenaga kami selama melakukan perawatan  itu di nilai dengan angka  nominal cuma Rp150 ribu hingga Rp200 ribu selama kurun waktu tersebut," tuturnya lirih.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar