#perkebunan#ekbis#hargagetahkaret#beritalampura

Petani Karet di Lampura Beralih ke Palawija

( kata)
Petani Karet di Lampura Beralih ke Palawija
Bekas lahan karet yang tanamannya di tebang petani untuk ditanami komoditas pertanian lain yang lebih menguntungkan. Foto: Dok

Kotabumi (Lampost.co): Harga karet yang kian merosot dalam beberapa tahun terakhir memupuskan harapan petani karet di Lampung Utara (Lampura) untuk mendapatkan penghidupan yang layak bagi keluarganya.

Hal itu, semakin diperberat sejak terjadi pandemi covid-19 yang menyebabkan harga jual getah karet semakin terpuruk dari sejak Februari 2020 yang masih dihargai Rp7 ribu per kilo turus turun hingga Rp4 ribu per kilo saat ini.

"Kondisi petani karet sekarang hanya bisa bertahan. Mereka berharap harga dapat seperti dulu, minimal Rp12 ribu per kilo. Sehingga penghidupan keluarga yang di tanggung dapat beranjak menjadi lebih baik," ujar Koordinator Penyuluh (Korluh) Dinas Pertanian di Kecamatan Blambangan Pagar, Agus Andriyanto, Rabu, 1 Juli 2020.

Hanya saja, lanjut dia, karena keterpuruknya harga berlangsung terlalu lama, sementara beban dari kebutuhan keluarga terus meningkat. Pada batas tertentu para petani karet di Lampura sudah tidak bisa bertahan lagi bertani karet. Mereka mesti mengambil sikap dengan memilih komoditas pertanian lain yang lebih menguntungkan seperti palawija yakni singkong ataupun jagung.

"Sekarang banyak petani karet di Lampung Utara yang putus asa, sehingga mereka mengambil keputusan ada yang menebang tanaman itu untuk diganti dengan komoditas pertanian yang lain. Daripada tetap mempertahankan komoditas karet yang harganya masih belum kunjung membaik," kata dia. 

Dia mengungkapkan dari tujuh desa yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Blambangan Pagar, yakni Desa Tanjungiman, Blambangan, Pagar, Pagargading, Jagang, Buringkencana, dan Tulungsingkip. Banyak petani karet di desa tersebut, ada yang telah mulai menebang tanaman karetnya secara bertahap untuk di ganti dengan tanaman yang lain.

"Dengan kondisi harga sekarang, bagi petani menebang pohon karet dan menggantinya dengan tanaman yang lebih menguntungkan merupakan pilihan yang lebih baik," katanya.

Menyikapi kondisi harga karet saat ini, kata dia, pihaknya pesimis komoditas karet dapat dipertahankan menjadi komoditas unggulan untuk Kabupaten Lampung Utara. 

"Dari tahun ke tahun luas baku lahan karet semakin tergerus. Merujuk data ada penurunan luas areal lahan dalam kurun waktu 2017--2018. Dengan rincian 2017, sekitar 35.403 ha dan 2018 turun menjadi 30.779 ha. Di 2019, walaupun belum dihitung secara rinci luas lahan itu sekarang di lapangan telah semakin menyusut," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar