#beritalampung#beritalamsel#pertanian

Petani di Sragi Mengeluhkan Distribusi Pupuk Bersubsidi Lambat

( kata)
Petani di Sragi Mengeluhkan Distribusi Pupuk Bersubsidi Lambat
Ilustrasi. Foto: Google Images


Kalianda (Lampost.co): Sejumlah petani di Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, mengeluhkan pendistribusian pupuk bersubsidi di wilayah setempat lambat. Pasalnya, petani di wilayah tersebut dalam waktu dekat akan memasuki masa pemupukan kedua tanaman padi.

Seperti yang diungkapkan, Tono, salah satu petani di Desa Baktirasa. Dia mengaku saat ini ketersediaan pupuk bersubsidi, khususnya jenis urea kosong. Padahal, ia dalam waktu dekat akan melakukan pemupukan yang kedua pada tanaman padinya.

"Sudah beberapa hari ini saya cari pupuk subsidi yang jenis urea di kios belum ada alias kosong. Sedangkan untuk jenis phonska justru sudah ada," kata dia, Senin 8 Agustus 2022.

Dia bersama petani setempat berharap pupuk bersubsidi di percepat dalam pendistribusian ke kios. Menurutnya, jika tanaman padi mengalami keterlambatan pemupukan kedua, maka berdampak dengan pertumbuhan tanaman dan produktivitas padi.

"Seharusnya pupuk bersubsidi sudah tersedia semua di kios sebelum masa tanam dimulai. Ya, minimal paling lambat sudah ada ketika usia tanam padi 15 hari setelah tanam (HST)," kata dia.

Hal senada diungkapkan, Ketua Gapoktan Sinar Bakti Desa Baktirasa Purwanto membenarkan adanya keluhan petani terhadap lambatnya pendistribusian pupuk bersubsidi. Bahkan, keluhan itu telah disampaikan kepada pihak distributor saat rakor di Kantor BPP Kecamatan Sragi belum lama ini.

"Memang saat ini pupuk bersubsidi jenis urea ini yang kosong. Petani di desa kami sudah banyak yang nyari pupuk urea. Kebiasaan petani disini, sebelum pemupukan dimulai harus sudah ada," kata dia.

Terkait keterlambatan itu, kata Purwanto, pihak distributor mengaku keterlambatan itu dikarenakan kurangnya mobilisasi dalam pendistribusian ke setiap kios. Sehingga, pendistribusian dilakukan secara bergiliran.

"Alasan mereka armadanya kurang. Sedangkan, kebutuhan petani banyak dan minta secara serentak (berbarengan). Sehingga, pendistribusian harus digilir," kata dia.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar