#LAMSEL

Petani Cabai Sebut Harga Dikendalikan Bakul

( kata)
Petani Cabai Sebut Harga Dikendalikan Bakul
Lahan pertanian cabai di Kecamatan Natar. Lampost.co/Febi Herumanika


Kalianda (Lampost.co) -- Merosotnya harga cabai membuat petani merugi. Hal itu diungkapkan Fajar Rudin Al Kohar (29) petani di Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Senin, 07 November 2022.

Menurutnya, petani tidak berdaya sebab harga pasar dikendalikan bakul.

"Kalau dibilang petani rugi pasti rugi dengan harga yang sekarang di bawah Rp20 ribu per kilogram. Petani bisa dikatakan dapat hasil paling minim harga cabai itu semestinya di atas Rp20 ribu. Harga itu pun baru dapat sedikit petani. Petani selama ini mengikuti harga pasar yang masih dikendalikan oleh para bakul," kata dia.

Untuk saat ini, kata Fajar, dia baru selesai menanam. Sebab sekarang memang musim tanam bukan musim panen. "Ada sistem hitung-hitungan bulan kalau kami petani cabai di sini. Nah di bulan sekarang memang musim tanam bukan panen jadi tidak berpengaruh turunnya harga," kata dia.

Dia menyebut, kemungkinan besar cabai yang dijual di pasar sekarang berasal dari luar daerah seperti Sumatera Selatan atau Pulau Jawa. “Kalau kami di Natar ini belum panen karena tahu bulan waktu tanam dan panennya kapan. Bicara untung dan rugi ya jelas petani rugi dengan harga sekarang petani dapat hasil dari panen kisaran harga Rp20 ribu ke atas,” kata dia.

Fajar mengatakan, waktu tanam merupakan siasat petani agar mendapatkan hasil maksimal dan harga yang seimbang di pasaran. "Saya dan kakak kebetulan di waktu sekarang baru selesai tanam. Sekitar tiga bulan ke depannya kemungkinan panen dengan harga yang sesuai harapan," kata dia.

Deni Zulniyadi








Berita Terkait



Komentar