#beritalampung#beritalambar#ekbis

Petani Cabai di Lampung Barat Berharap Harga Cabai Terus Menguntungkan

( kata)
Petani Cabai di Lampung Barat Berharap Harga Cabai Terus Menguntungkan
Amir, petani cabai di Dusun Serdang, Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat. Lampost.co/Eliyah


Liwa (Lampost.co): Siang itu udara terasa panas karena matahari sedang terik. Sekitar 10 meter terdengar suara yang muncul di sebuah gubuk salah seorang petani di Dusun Serdang, Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat.

Ia adalah Amir (38) yang sedang ditemani seorang petani sekitar yang sedang beristirahat dan bercengkerama di gubuk miliknya.

Sekitar lima meter dari gubuknya terlihat hamparan tanaman cabai yang siap menunggu jadwal panen.

Amir mengaku dirinya sudah enam kali panen cabai dan terakhir yaitu Sabtu, 24 September 2022. "Saya panen hari Sabtu lalu saat itu panen yang ke-6 dengan harga Rp30 ribu per kilo," kata Amir.

Menurutnya, harga cabai saat ini sudah turun drastis. Panen yang ke-5 yang jaraknya hanya berkisar seminggu waktu itu masih Rp50 ribu per kilo. Namun saat ini hanya Rp30 ribu per kilo.

Baca juga: Harga Daging Ayam di Bandar Lampung Turun

Kendati demikian. Dia tetap bersyukur karena modal tanam sudah kembali.

"Di harga Rp30 ribu per kilo di tingkat petani itu masih ada untungnya untuk petani," kata dia.

Menurutnya, jika harganya hanya Rp20 ribu per kilo, maka hasilnya hanya untuk mengembalikan modal saja. "Tidak ada upah capeknya," kata Amir.

Ia menambahkan menanam cabai membutuhkan proses yang rumit dan butuh perawatan yang ekstra dibandingkan tanaman komoditas lainnya. Sebab jika perawatan terlambat maka risiko penyakit dan hama juga tinggi. Kemudian modal tanam juga lebih tinggi dibanding dengan tanaman sayuran lainnya. Karena itu lah hanya petani tertentu saja yang rajin membudidayakan tanaman cabai.

Ia mengaku, tanaman cabai paling rentan terhadap hama yang ditimbulkan oleh kutu kebul yang mengakibatkan tanaman menjadi keriting, kerdil lalu rusak. Kemudian ketika berbuah tanaman cabai rentan terhadap virus yang mengakibatkan buah menjadi busuk serta lalat buah dan masih banyak lagi yang menjadi musuh petani cabai.

Kendati prosesnya membutuhkan tenaga ekstra dan modal banyak, namun banyak petani di Lampung Barat tetap melakoninya. Jika saat panen harga sedang tinggi, itu artinya keberuntungan sedang berpihak sehingga petani bisa menikmati hasil berlimpah.

Kondisi inilah yang membuat para petani terkadang tidak putus asa walaupun menanam sering gagalnya.
 
"Ada beberapa petani yang menanam cabai gagal panen, tetapi tidak putus asa dan tetap menanam karena tanaman cabai terkadang memberikan kejutan rezeki," kata Amir.

Ia mengaku, usaha budidaya cabai ini memiliki fenomena harga. Karena ketika hasil produksi melimpah sangat jarang terjadi yang disertai dengan harga tinggi. Sebaliknya, ketika produksi menurun tetapi saat itu juga harga tinggi.

Amir mengaku tahun ini salah satunya yaitu awalnya tanam cabai dengan hasilnya yang cukup bagus tetapi kemudian harganya anjlok.

"Saya nekat kembali menanam cabai dan alhamdullilah lima kali panen harganya cukup lumayan yaitu Rp50-65 ribu per kilo. Kemudian panen keenam ini harganya langsung turun drastis yaitu Rp30 ribu per kilo. Panen yang akan datang yaitu yang ketujuh dan seterusnya itu tinggal keuntunganya saja," kata dia.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar