hargacabaicabai

Petani Cabai di Lambar Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem

( kata)
Petani Cabai di Lambar Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem
Tanaman cabai petani di Liwa yang terlihat rusak karena kriting sehingga tidak menghasilkan buah. Eliyah

LIWA (Lampost.co) -- Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini mengakibatkan produksi cabai merah petani Lampung Barat anjlok. Akibatnya, kebutuhan cabai merah untuk masyarakat di wilayah Liwa dan sekitarnya sebagian besar dipasok dari Sumatera Selatan.

Pantauan Lampost.co, Rabu, 22 Januari 2020, di Kecamatan Sukau dan Balikbukit, Lampung Barat, yang merupakan salahsatu daerah sentra cabai merah, tanaman cabai petani umumnya rusak terserang penyakit kuning dan kriting atau yang dikenal dengan istilah bule.

Selain penyakit bule itu, minimnya stok cabai merah bahkan cabai rawit di tingkat petani saat ini juga karena serangan lalat buah.

Wahani (50), warga Pemangku Bawang, Pekon Sukarame yang menekuni budidaya tanaman cabai merah, mengaku jika hasil panennya tahun ini jauh merosot dan sangat tidak sesuai harapan. Tanamanya seluas 5 Ha hasilnya benar-benar tidak memuaskan.

"Panen cabai merah saat ini rata-rata hanya dapat sedikit bahkan lebih banyak gagal. Rata-rata tanaman cabai merah petani di Lambar saat ini rata-rata rusak," kata gowa sapaan akrabnya itu.

Kalau untuk harga di tingkat petani, kata dia, saat ini yaitu Rp35-40 ribu. Harga itu sudah cukup bagus buat petani namun masalahnya adalah tanaman petani kini sedang tidak menghasilkan karena rusak.

Wahani menambahkan, kerusakan itu adalah karena faktor cuaca yang selama ini tidak normal yang mengakibatkan tanaman cabai menjadi kriting dan daunya kuning. Tanaman cabai jika kondisi daunya sudah kriting ditambah warnanya berubah menjadi kuning maka akan sulit untuk berproduksi.

"Harga saat ini bagus tapi hasil panen tidak memuaskan karena tanaman tidak berproduksi," kata dia.

Ia mengaku sudah banyak cara yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan penyakit pada tanaman cabai ini. Bahkan petugas dari penyuluh pertanianpun sudah sering datang memberikan pendampingan dan melakukan pertemuan serta melihat kondisi tanaman secara langsung tetapi nyatanya tetap saja hasilnya tidak memuaskan.

"Kalau karena faktor cuaca maka siapapun tidak akan bisa mengatasinya. Demikian juga tentang serangan hama juga sulit dikendalikan. Petani disini juga tidak akan mampu kalau menanam harus menggunakan paranet sebab lahanya luas dan tidak akan mungkin bisa diatasi dengan paranet tanaman," kata Wahani.

Untuk bibit yang digunakan, kata Wahana, jika menggunakan bibit cabai hibrida hasilnya juga kurang bagus. Cabai hibrida di Lambar rentan terhadap penyakit kriting yang kemungkinan belum cocok dengan iklimnya.

Untuk untuk tanaman cabai tahun ini di Liwa ini semua rusak. Menurut petugas kata dia, itu karena ikllim. Kalau untuk pemupukan dan penanganan semua sudah dilakukan tapi hasilnya tidak ada. Tidak bisa juga kalau mau menyalahkan obat-obatnya.

Sementara itu, sejumlah agen sayur atau pedagang pengumpul sayuran di Pekon Tanjungraya, Hanakau dan Bandarbaru (Sukau), mengaku jika sejak memasuki Januari ini pihaknya kesulitan untuk mendapatkan stok cabai karena petani tidak ada yang panen akibat tanaman rusak. Antara lain Sahrial mengaku untuk sementara sejak Januari ini cabai merah kosong. Kalaupun ada itu banyak didatangkan dari luar Lambar.

"Petani cabai di wilayah Sukau rata-rata gagal produksi karena tanaman umumnya rusak disebabkan cuaca tidak normal," kata Sahrial salahsatu pedagang pengumpul.

Sementara itu, Tupo yaitu salahsatu pedagang pengepul khusus cabai yang biasa menjual cabai di sejumlah pasar-pasar di Kecamatan Balikbukit dan Sukau, mengaku untuk sementara stok dipasok dari OKU dan Martapura (Sumsel).

"Sejak produksi cabai petani di Liwa dan Sukau minim, stok cabai merah yang saya miliki untuk sementara ini dipasok dari Martapura dan OKU, Sumsel dengan harga Rp60-65 ribu/kg," kata Tupo.

Winarko



Berita Terkait



Komentar