#tumbai#naikpepadon

Pesta Naik Papadon Berawal dari Zaman Megalitik

( kata)
Pesta Naik Papadon Berawal dari Zaman Megalitik
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

HINGGA pada zaman modern perayaan di semua kelompok orang Abung masih dilakukan yang diadakan para pemimpin marga, termasuk pembiayaannya dan dikeluarkan barang berharga tidak hanya kepada anggota marganya sendiri, tetapi juga kepada semua penduduk desa, keluarga dari asosiasi desa seberang, sebagian besar anggota dari asosiasi suku yang berhubungan dengan silsilah. Persiapan perayaan itu dilakukan sepanjang bulan, sering sepanjang tahun.

Hasil panen lada lalu disimpan beberapa tahun untuk keperluan tersebut, begitu pula hasil panen tanaman lainnya. Hasil panen itu kemudian dijual dengan harga tinggi sehingga hasilnya dapat digunakan untuk membuat pesta lebih mewah. Pada 1953, masih dijumpai orang Abung yang menjadi miskin akibat cara ini.

Pesta yang dilakukan sejak zaman Bantam yang disebut pesta papadon tersebut menggunakan tradisi kuno. Dari tradisi orang Abung sekarang perihal papadon batu dan berbagai batu ubin yang ditemukan di pegunungan, dapat diketahui bahwa pesta-pesta itu berawal dari zaman megalitik. Hanya orang mampu dan kaya yang dapat menggelar pesta itu.

Penyelenggara pesta tidak hanya harus menyediakan makanan enak untuk ratusan tamu bahkan hingga ribuan, dia juga harus menanggung biaya tertentu yang dibayarkan ke pemimpin adat lainnya dalam bentuk kerbau dan sejumlah uang. Hal yang terpenting penyembelihan seekor, beberapa, atau sejumlah banyak kerbau.

Yang penting dalam perayaan itu adalah tidak hanya perihal berbagi kekayaan, tetapi juga arti khusus bagi si penyelenggara. Pada hari tersebut dilakukan kenaikan papadon di depan khalayak dengan pelepasan nama dan masa lalu si penyelenggara. Kini, ia disebut sutan dan gelar itu diletakkan di depan nama barunya. Dengan perayaan tersebut, ia menjadi manusia lain, ia masuk ke kelompok sutan tahap lanjut seorang pria.

Laki-laki yang boleh menaiki papadon dan menjadi sutan hanyalah yang telah menikah dan pernah menaiki rato saat upacara pernikahan. Namun, bagi yang mewarisi hak untuk menaiki papadon dan hak gelar sutan dari leluhurnya, ia hanya perlu menaiki rato di depan umum. Ini juga berkaitan dengan penyelenggaraan pesta rakyat dengan penyembelihan kerbau, jika ia sebelumnya tidak langsung menikah atau sebelumnya telah melangsungkan pernikahan.

Dengan menaiki rato, orang Abung tersebut telah membuat garis di bawah masa lalunya. Melepaskan nama yang ia miliki sejak kecil dan masa muda. Dengan menaiki rato berarti dia menyandang nama barunya yang ditambah gelar pangeran. Oleh sebab itu, orang Abung ini telah meninggalkan kelompoknya para pemuda dan masuk ke kelompok selanjutnya, yaitu laki-laki dewasa, siap menikah, dan berpengaruh.

Demikian, pengetahuan tentang kenaikan papadon dan juga pelopor rato, hanya dokumentasi perkumpulan untuk penerimaan orang Abung ke dalam kelompok. Pembentukan kelompok itu berdasarkan perkembangan alami laki-laki dari kecil menjadi pemuda dan laki-laki yang siap menikah kemudian secara umum sebagai pemimpin marga dewasa yang dihormati dan disegani. Dengan ini diketahui masa transisi tersebut dari kelompok satu ke berikutnya sebagai masa inisiasi. Dalam hal ini cerita penting Du Bois dari awal abad ke-19 sangat berharga. Ia mengetahui dulu papadon dinaiki orang Abung saat kembali dari peperangan dengan kemenangan. 

 

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar