#LampostWeekend#Sorot#MendidikAnak#Dongeng

Pesan Moral Sebuah Cerita

( kata)
Pesan Moral Sebuah Cerita
Pendongeng menghibur anak-anak dengan cerita-cerita menghiburnya. Pendongeng kini sudah sangat jarang ditemui bahkan kegiatan mendongeng pun sudah jarang terdengar. LAMPUNG POST/M UMARUDINSYAH MOKOAGOW


BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Ketika orang tua mendongeng untuk anak, apa yang menjadi cerita dan pesan moral dalam sebuah dongeng akan disimpan di alam bawah sadar seorang anak. Pesan moral tersebut akan dikenali oleh syaraf di kepalanya dan akan muncul 20 tahun ke depan menjadi sikap hidupnya. Hal itulah yang menjadikan aktivitas mendongeng begitu bermanfaat untuk anak.
Direktur Kreatif Komunitas Dongeng Dakocan, Iin Mutmainah, mengungkapkan jika ingin membangun generasi yang respek dengan toleransi dan keberagaman, maka ceritakanlah kepada anak-anak tentang indahnya perbedaan. Ia mencontohkan melalui cerita Timun Mas yang tanpa adaptasi. Si ibu minta diberikan anak kepada raksasa, tapi ibu harus berjanji untuk memberikan kembali anaknya kepada sang raksasa saat anaknya berusia 18 tahun.
Pada kemudian hari, ibu itu melanggar janjinya dan raksasa yang menagih janji tersebut akhirnya mati. Menurutnya, jika ini diceritakan kepada anak usia 5—6 tahun bisa kacau. Sebab, kesimpulan terhadap cerita ini bisa beragam. Bisa saja akan ada pemikiran dari anak-anak yang mendengar dongeng itu bahwa janji tidak harus ditepati, janji bisa dilanggar, kejujuran akan hilang, dan lain sebagainya. Dengan demikian, tidak akan terbangun sikap bertanggung jawab dari anak.
"Jangan ceritakan versi Timun Mas pada anak usia itu, buat versi lain. Misalnya, karena keteguhan hati sang ibu, akhirnya dia tetap menepati janji kepada si raksasa. Ibu itu menyerahkan anak yang sangat dicintainya. Dalam hatinya, ibu itu berdoa agar Tuhan melindungi anaknya," kata Iin.
Dia melanjutkan dalam dongeng tersebut raksasa adalah lambang dari cobaan dan rintangan berat menuju perjalanan hidup menjadi manusia yang dewasa dan bertanggung jawab. Sebab itu, pesan yang disampaikan dari dongeng yang versinya telah berubah itu menjadi tepat sasaran dan tepat makna.
"Negara Jepang sudah melakukan hal ini. Mereka telah merevitalisasi dongeng rakyatnya dan menjadikannya gerakan budaya. Anak-anak usia dini sudah diberikan dongeng tentang falsafah bangsanya. Tentu saja dikemas dengan cerita yang sederhana dan dimengerti oleh anak.”
Ditanya soal tokoh karakter baik dari cerita rakyat maupun tokoh Disney apakah akan memengaruhi antusiasme si anak saat ini, Iin menjawab hal tersebut tidak menjadi masalah. Menurutnya, dalam sebuah dongeng yang terpenting adalah isi pesannya, bukan siapa tokohnya. Meski dia tidak menampik bahwa anak-anak sangat suka dengan brand image sebuah tokoh.
"Soal pengaruh ketokohan dalam sebuah cerita, ya ndak juga. Anak-anak suka mendengarkan dongeng apa saja yang menarik buat dirinya. Jika dongeng itu sampai memengaruhi seorang anak (sampai melekat), berarti si pendongeng sangat sukses menyampaikan dongengnya," ujarnya. 

Nur Jannah









Komentar