#opini#LampungPost#pesandamai#mimbarkhurbah

Pesan Damai dari Mimbar Khotbah

( kata)
Pesan Damai dari Mimbar Khotbah
Ilustrasi mimbar khutbah. 1.bp.blogspot.com

KHOTBAH merupakan sarana menyampaikan nasihat; pesan-pesan dan nilai-nilai agama kepada umat (nasihat keagamaan). Ali Mahfuz (dalam Ghani, 2001:47) menjelaskan khotbah sebagai himpunan undang-undang dan peraturan yang mampu meyakini pendengar dalam berbagai topik yang dikehendaki berdasarkan pesan yang disampaikan khatib (orang yang khotbah). Pesan tersebut boleh dipilih untuk diikuti maupun tidak.
Berdasarkan literatur Islam, khotbah dibagi menjadi dua. Pertama, khotbah yang disyariatkan, seperti khotbah Jumat. Kedua, khotbah yang tidak disyariatkan, seperti ceramah, pidato ilmiah, dan sejenisnya. Kedua jenis khotbah ini memiliki kesamaan, yakni membahas tema tertentu yang bersinggungan dengan nilai-nilai agama dan isu seputar keumatan. Dalam tataran lebih luas, khotbah adalah langkah sadar dan terencana untuk bersama-sama menegakkan agama Allah.
Secara fungsi, khotbah mempunyai fungsi yang luar biasa. Pertama, sebagai media komunikasi pembangunan umat. Nilai-nilai agama yang begitu mulia tidak akan sampai jika tidak ada media untuk komunikasi dan menyampaikan pesan suci itu. Nilai-nilai agama akan menjadi hampa. Dalam kondisi seperti itulah, khotbah merupakan media komunikasi pembangunan umat.
Kedua, pesan dan nasihat (tausiah). Tidak jauh berbeda dengan poin pertama, khotbah adalah wadah untuk menyampaikan pesan-pesan Islam rahmatan lil alamin. Ketiga, pembelajaran dan penyadaran. Lebih mendalam lagi, khotbah adalah sebuah momentum mulia untuk mengajak dan merenungkan ajaran yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, nilai duniawi dan ukhrawi dipadukan secara berimbang.

Menyebarkan Pesan Perdamaian

Sebagaimana dicatat oleh Ghani (2001:47), dalam sejarah Islam, terdapat khotbah warisan masyarakat zaman jahiliah yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Ya, khotbah yang dimaksud adalah khotbah yang bercorak bermegah-megahan, meniup semangat permusuhan, dan mengolok-olok kelompok lain, meskipun seiman.
Jelas sudah bahwa khotbah yang berkonten permusuhan, meniupkan ujaran kebencian, fitnah, adu domba, memutar-balikkan fakta, dan sejenisnya dilarang keras oleh Islam. Dalam Alquran Surah An-Nur Ayat 16 melarang muslim untuk mencari kesalahan atau keburukan orang.
Dalam konteks ucapan, Nabi Muhammad Saw bersabda: Karena itu, Nabi SAW bersabda, "Tidak akan lurus iman seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak akan lurus hati seorang hamba sebelum lurus (benar) lisannya." (HR Ahmad). Senada dengan itu, sebuah pepatah Arab menyatakan, “Salamatul insan fi hifzhil lisan” (Keselamatan manusia itu sangat tergantung pada pemeliharaan lisan).
Allah telah memberikan nikmat lisan secara gratis. Akan tetapi, tidak berarti yang gratis itu digunakan untuk berbicara menurut kehendak hawa nafsu kita, tetapi harus diartikan sebagai pemberian yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan menjaga lisan dan memanfaatkannya sesuai dengan ajaran Islam. Menyebarkan pesan perdamaian adalah salah satunya dan ini yang utama.

Khotbah dan Ujaran Kebencian

Diakui maupun tidak, dalam beberapa tahun belakangan ini kecenderungan konten khotbah yang bernuansa kebencian terhadap kelompok tertentu menguat. Memang dibenarkan seseorang fanatik terhadap kelompoknya. Sebab, fanatik (yang terkendali) dapat menumbuhkan jiwa patriot dan korsa. Namun, yang tidak dibenarkan adalah fanatisme buta. Janganlah menodai kesucian khotbah dengan laku yang demikian itu.
Tak ayal, atas dasar fenomena itulah, belakangan mencuat wacana sertifikasi khatib. Maka, kita harus kembali mengamati dan menjalankan apa yang disampaikan oleh Firdaus Efendi dalam Membangun Masyarakat melalui Khotbah dan Ceramah. Salah satunya dengan menebar perdamaian sebagai misi kemanusiaan dalam ajaran Islam.
Ahmad Syafi’i Maarif, ketika memberikan testimoni buku 32 Khotbah Jumat Cak Nur: Menghayati Akhlak Allah dan Khotbah-khotbah Pilihan Lainnya (2015) mengatakan, “Apa pun yang disampaikan Cak Nur hampir dapat dipastikan akan membawa kesejukan...” Apa yang dilakukan Cak Nur sejatinya juga dilakukan oleh ulama-ulama dahulu dan juga para khatib jumat dan pidato keagamaan lainnya. Pesan damai dari mimbar khotbah inilah yang harus digaungkan.
Nikmat perdamaian merupakan misi kenabian yang harus dibumikan. Jadi, seorang mukmin adalah juru damai yang agung. Ayat-ayat perang yang turun dalam konteks dahulu—umat Islam dikepung dan diperangi—harus dimaknai dalam konteks kekinian dan kedisinian. Misalnya tentang ayat jihad. Juru damai memaknai jihad itu menghidupkan, bukan mematikan seperti bom bunuh diri dan sejenisnya.
Selain itu, seorang juru damai adalah menghimpun, bukan memecah belah. Ada sekian banyak ayat Alquran yang menekankan persatuan dan persaudaraan. QS Al-Anfal 46 dengan tegas melarang pertikaian dan permusuhan. Menciptakan kerukunan dan perdamaian adalah tugas dan tanggung jawab orang beriman. Selain itu, menyebarkan perdamaian merupakan jalan atau amal untuk mencari rida Allah dan mendapatkan surga-Nya.
Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan dan dalih satu pun yang dapat melegitimasi upaya menebar permusuhan dan sejenisnya dalam Islam, khususnya di mimbar khotbah. Sebaliknya, Islam sangat menekankan terwujudnya tatanan yang aman sebagai pengejawantahan baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.
Tegas kata, mari gunakan mimbar khotbah sebagai wadah untuk menebarkan pesan perdamaian dan memperkokoh persaudaraan. Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Yang bukan saudaramu seiman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Ajaran dan perintah agama juga jelas, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah di antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”  (Al-Hujuraat: 10).
Dan ketahuilah, di antara ancaman terhadap orang yang tidak menjaga lisannya adalah sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw, “Sesungguhnya jika seorang hamba berbicara dengan kalimat yang tidak jelas baginya (apakah kalimatnya itu benar atau salah), maka ia akan tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Bersamaan dengan itu, Nabi Muhammad juga bersabda, “Barang siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kumis dan jenggot (lisan dan kedua bibir) dan apa yang ada di antara pahanya (kemaluan), maka aku jamin baginya masuk surga.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan Bukhari).
Kemuliaan itu adalah Alquran. Maka, orang yang mengajarkan dan mempraktikkan ajaran yang tertera dalam Alquran niscaya ia tergolong orang mulia. Sebaliknya, yang bertindak dan berkata sesuai hawa nafsu dan cenderung mengabaikan pesan dan ajaran dalam Alquran, niscaya ia termasuk golongan yang hina. Dan ketahuilah bahwa menyebarkan pesan perdamaian adalah salah satu dari berjuta-juta pesan dalam Alquran. Wallahualam bissawab.

Muhammad Najib, Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan Islam Mr Sjafruddin Prawiranegara, Peneliti di Rumah Kader Monash Institute Semarang

Berita Terkait

Komentar