#perusahaan#sahabatanak#tajuk

Perusahaan Sahabat Anak

( kata)
Perusahaan Sahabat Anak
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

TIADA harta terbesar bagi orang tua kecuali anak. Begitu berartinya kehadiran seorang anak. Tidak berlebihan jika anak disebut sebagai si buah hati. Tolok ukurnya bukan lagi materi, tetapi hati.

Di mana pun tempat, anak berada di posisi sentral yang harus menjadi prioritas. Di pundak merekalah nasib masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Pemerintah Pusat pun membentuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ada juga Komisi Perlindungan Anak untuk mengadvokasi terkait persoalan anak. Pemerintah daerah pun membentuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Tidak cukup dengan berbagai lembaga tersebut. Sejumlah pemda berlomba-lomba mencapai predikat kabupaten/kota layak anak (KLA). Di Lampung, tahun ini tujuh daerah berhasil lolos verifikasi administrasi penilaian KLA. Daerah tersebut adalah Bandar Lampung, Metro, Lampung Timur, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Pringsewu, dan Way Kanan. Masih pada tahun ini, Lampung Selatan bahkan kembali mendapatkan penghargaan KLA predikat pratama. Penghargaan itu diraih beruntun Lamsel setelah menyabetnya tahun lalu.

Untuk mewujudkan KLA dengan baik, ada sejumlah klaster yang harus didukung pemerintah yaitu hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dasar dan kesejahteraan; pendidikan; serta pemanfaatan waktu luang, kegiatan budaya, dan perlindungan khusus.

Namun, faktanya semua usaha menuju KLA belum tentu berhasil. Lembaga Advokasi Perempuan Damar mengungkap selama 2018 terdapat 14 kasus kekerasan seksual anak. Sementara hingga pertengahan tahun ini tercatat 12 kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan.

Data lain dari UNICEF (2015) melaporkan 26% anak diketahui pernah mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh di rumah. Sementara itu, 62% kekerasan terhadap anak dilaporkan terjadi di lingkungan terdekat keluarga dan lingkungan sekolah, baru selebihnya sebanyak 38% terjadi di ruang publik.

Tingginya kasus kekerasan dan pelecehan terhadap anak seharusnya menjadi motor penggerak bagi semua elemen untuk melindungi anak-anak.

Salah satu yang juga memiliki peran penting adalah lingkungan perusahaan. Di Bandar Lampung, Pemkot mendorong seluruh perusahaan bergabung dalam Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI). Asosiasi ini akan mendampingi, membantu, serta memberikan penghargaan kepada perusahaan yang memiliki kebijakan, program, maupun produk yang layak anak. APSAI menjadi wadah sinergi perlindungan anak, terutama bagi sektor swasta.

Dalam Pasal 72 UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jelas disebutkan setiap masyarakat, baik perseorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, badan usaha, maupun media massa berhak untuk berperan dalam perlindungan anak.

Dengan demikian, badan usaha pun dapat berperan aktif dan terlibat langsung dalam perlindungan anak. Wujud nyata peran serta perusahaan dalam perlindungan anak dilakukan dengan menyiapkan fasilitas dan pelayanan ramah anak, kawasan tanpa asap rokok, dan infrastruktur ramah anak.

Pemerintah dan perusahaan telah membentuk berbagai lembaga struktural. Namun, semua itu sifatnya sekadar membantu dan mengadvokasi. Sebab, bagaimanapun fokus perlindungan anak tetap harus dimulai dari keluarga. Tanpa peran keluarga, semua usaha perlindungan anak tidak akan berhasil.

Tim Redaksi Lampung Post



Berita Terkait



Komentar