#perusahaanbumn#alkes

Perusahaan BUMN Masuk Daftar Janggal Penerima Alkes

( kata)
Perusahaan BUMN Masuk Daftar Janggal Penerima Alkes
Ilustrasi alat kesehatan. Alibaba


Jakarta (Lampost.co) -- Lima dari 13 lembaga disebut menerima distribusi alat kesehatan (alkes) dalam jumlah besar dan salah satu lembaga tersebut diduga perusahaan BUMN, yaitu PT Bhanda Ghara Reksa (BGR).

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Wana Alamsyah mengatakan dalam data lembaga penerima alkes tidak dijelaskan secara detail peran dari perusahaan negara tersebut. Pemerintah memasukkan perusahaan itu dalam tiga kolom dari 13 lembaga penerima alkes.

Pertama, BNPB dan BGR. Kemudian kedua, Kelapa Gading dan BGR. Ketiga, cold storage atau gudang pendingin BGR.

"Di website-nya PT Bhanda Ghara Reksa bergerak pada jasa logistik, alamat di Kelapa Gading. Sehingga Kelapa Gading dan BGR merujuk pada BUMN," kata Wana dalam konferensi pers secara virtual, Rabu, 12 Agustus 2020.

Perincian alkes dalam jumlah besar yang diterima lima perusahaan itu, pertama, Pusat Krisis Kesehatan 18 juta alkes. Kedua, Kelapa Gading dan BGR 12 juta alkes, ketiga, Merpati Halim lima juta alkes, keempat, BNPB dan BGR satu juta, dan kelima, gudang pendingin BGR.

"Kalau kita lihat tidak ada penjelasannya Merpati Halim itu apa, cold storage BGR apa, tidak pernah dijelaskan ke publik," kata dia.

ICW mencoba menelusuri keberadaan gudang pendingin milik PT BGR. Didapatkan fakta PT BGR tidak memiliki gudang pendingin. Hal itu diperkuat dengan pemberitaan di media PT BGR baru mewacanakan membuat gudang pendingin pada Januari 2020.

"Pertanyaannya gudang pendingin yang dimiliki PT BGR yang mana. Jangan sampai ada potensi kecurangan muncul. Kalau kita lihat jumlah (alkes) cukup banyak, ada 638 ribu," ujarnya.

ICW juga menemukan kejanggalan pada lembaga nomor urut 12 yang tertulis Komisi VIII DPR. Wakil rakyat itu diketahui menerima 8.000 unit alkes.

"Untuk apa Komisi VIII menerima alkes tersebut, apakah digunakan oleh Komisi VIII atau untuk ke daerah pemilihan. Ini yang tidak pernah kami ketahui informasi-informasi ini," katanya.

Medcom







Berita Terkait



Komentar