#tajuklampungpost#sbmptn#snmptn

Perubahan SMPTN Butuh Persiapan Matang

( kata)
Perubahan SMPTN Butuh Persiapan Matang
Ilustrasi. (Foto: Dok)

KEMENTERIAN Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengubah seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) 2019. Pola seleksi masuk kampus negeri tahun depan akan sangat berbeda dengan sebelumnya.

Penerimaan mahasiswa baru tidak lagi dilaksanakan panitia seleksi, tetapi dilakukan institusi bernama lembaga tes masuk perguruan tinggi (LTMPT) yang merupakan lembaga nirlaba. Calon mahasiswa hanya akan menjalani ujian tertulis berbasis komputer atau UTBK lebih dahulu di lembaga tersebut, dan hasilnya akan digunakan untuk mendaftar masuk PTN.

Pelajar diminta untuk menjalani tes terlebih dahulu, baru kemudian memilih program studi di kampus tertentu. Hasil tes itulah yang akan menjadi rujukan PTN dalam menerima mahasiswa baru. Hasil tes tersebut berlaku selama satu tahun dan digunakan masuk PTN yang masing-masing memiliki batas nilai kelulusan.

Materi tes yang dikembangkan dalam UTBK 2019 meliputi tes potensi skolastik dan tes kompetensi akademik dengan kelompok ujian sainstek atau soshum. UTBK SBMPTN akan diselenggarakan 24 kali dalam setahun. Dalam waktu 12 hari yakni Sabtu dan Minggu yang akan dimulai pada Maret 2019 secara serentak dimulai pukul 08.00 dan pukul 13.00.

Peserta tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri 2019 dapat mengikuti UTBK maksimal sebanyak dua kali dengan membayar uang pendaftaran UTBK sebanyak Rp200 ribu pada setiap tes.

Menteri Ristek dan Dikti menilai perubahan seleksi tahun depan terkait pengembangan model dan proses seleksi berstandar nasional dan mengacu pada prinsip adil, transparan, fleksibel, efisien, akuntabel, serta sesuai perkembangan teknologi informasi pada era digital.

Meski jenis seleksi berbeda, jalur masuk PTN 2019 masih sama seperti tahun sebelumnya yaitu seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri dengan daya tampung minimal 20%. Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri minimal 40%, dan seleksi mandiri maksimal 30% dari kuota daya tampung tiap prodi di PTN.

Perubahan signifikan ini tentunya harus dibarengi dengan sosialisasi yang intensif kepada pelajar yang akan memasuki dunia perguruan tinggi. Jangan sampai pola seleksi yang baru ini merugikan pelajar karena tidak mendapat informasi yang komprehensif dari penyelenggara.

Pola seleksi hanya dengan ujian berbasis komputer perlu disambut dengan positif. Seleksi berbasis digital ini tentu lebih murah dan efisien, serta meminimalkan terjadinya kesalahan. Peserta juga bisa lebih cepat mengetahui hasil tesnya dan meminimalkan kecurangan.

Namun, masalah yang perlu dibenahi adalah tidak semua sekolah pelajar memiliki fasilitas komputer di sekolah. Mereka yang tidak terbiasa menggunakan perangkat teknologi akan kesulitan menjalani tes jenis ini. Menjadi tugas pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan untuk memastikan bahwa semua sekolah sudah memiliki laboratorium komputer untuk latihan ujian.

Tahun ini, jumlah mahasiswa yang diterima di 85 PTN mencapai 165.831 siswa melalui jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri.

Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi dari 860.001 peserta.

Dengan jumlah peserta yang cukup besar, Kemenristek dan Dikti harus mempersiapkan peralatan dengan sangat baik. Jangan sampai terjadi kesalahan jaringan dan kerusakan server yang bisa mengganggu kelancaran tes. Kementerian terkait harus berpacu dengan waktu karena persiapan yang relatif tidak lama. 

Kita harus mengingatkan kepada Kemenristek dan Dikti agar perubahan sistem ini bukan sekadar latah dalam mengikuti anekdot lama, “ganti menteri ganti kebijakan”. Seleksi masuk PTN merupakan pintu awal agar mereka yang lolos adalah pelajar yang memiliki kompetensi dan kemampuan untuk menyelesaikan studinya. Hasil akhirnya adalah semakin berkualitasnya lulusan perguruan tinggi, tidak sekadar mencetak sarjana menganggur.

Tim Tajuk Lampung Post

Berita Terkait

Komentar