#ikanmati#bendunganwayrarem#perikanan#beritalampura

Ribuan Ikan di Bendungan Way Rarem Mendadak Mati

( kata)
Ribuan Ikan di Bendungan Way Rarem Mendadak Mati
Ribuan ikan mati terapung di keramba jala apung Bendungan Way Rarem. Foto: Dok

Kotabumi (Lampost.co): Genangan air bendungan di Way Rarem Desa Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Lampung Utara tidak seperti biasanya. Bau anyir dari ribuan ekor ikan yang mati mendadak menyengat oleh indra penciuman.

"Saat melintas dengan perahu diantara bentangan karamba jala apung Bendungan Way Rarem, saya melihat ribuan ekor ikan mati terapung dipermukaan," ujar Yoan, warga Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi saat berkunjung di keramba ikan milik kerabatnya, Sabtu, 4 Januari 2020.

Menurut saudaranya, petani ikan di areal bendungan, ikan-ikan yang mati itu terjadi secara mendadak akibat perubahan cuaca beberapa hari terakhir, dari musim kemarau ke penghujan.

“Penyebab ikan mati mendadak di bendungan karena faktor cuaca yang sering berubah-ubah  tidak menentu. Seperti, hujan pertama yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Masyarakat menyebut fenomena ikan mati itu, adalah ikan mabok dan kondisi itu bukan yang pertama kali terjadi di areal bendungan," kata dia.

Salah satu pemilik karamba ikan jala apung, Syaprudin, mengatakan kerugian akibat ikan yang mati mendadak mencapai puluhan juta.

"Rata-rata yang mati mendadak di bendungan ini adalah jenis mas, sebab ikan itu walau memiliki nilai jual lebih tinggi di pasaran Kotabumi berkisar Rp28 ribu per kilo. Tapi, rentan mati  bila terjadi perubahan musim secara ekstrem. Sedangkan jenis ikan nila lebih tahan terhadap perubahan cuaca seperti kondisi saat ini," kata dia.

Dia mengaku matinya ikan secara mendadak bukan yang pertama kali terjadi di lokasi bendungan. Biasanya terjadi saat awal memasuki musim penghujan banyak ikan mengalami stres lalu mati.

"Kematian terbesar di Bendungan Way Rarem pada 2016 lalu. Rata-rata, petambak ikan disini mengalami kerugian sangat besar bisa mencapai ratusan juta rupiah," ujarnya.

Walau demikian, dia masih bersyukur di 2020 ini tidak banyak ikan miliknya yang mati akibat musim pancaroba.

"Mulai sekitar 30 Desember 2019 sampai hari ini, beberapa rekan saya mengaku banyak ikan ditambaknya mati mendadak. Kalau ditotal kalkulasi kematian bisa bertonase lebih dari satu ton dan kerugian yang ditanggung petambak ikan bisa mencapai ratusan juta," katanya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar