#refleksi#hari-pers#virus-korona

Pers dan Corona

( kata)
Pers dan Corona
Ilustrasi - Medcom.id.

INFORMASI miring virus corona yang beredar di media sosial lebih parah dan berbahaya dibandingkan dengan wabah penyakit mematikan seisi penduduk dunia. Pers diminta membantu meluruskan berita bohong (hoaks) yang berdampak serius di masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Informatika serta Menteri Kesehatan angkat bicara. Berita bohong terkait virus corona sangat seirus. Sebaran konten hoaks dan disinformasi sebaran virus dari daratan Tiongkok, yakni Novel Coronavirus (2019-nCoV) meningkat dalam dua minggu terakhir.

Berita bohong itu berseliweran di negeri ini. Kominfo menemukan 54 informasi hoaks yang tersebar melalui media sosial dan platform pesan instan. Yang dijual dalam konten hoaks itu, antara lain telepon genggam merek Xiaomi buatan Tiongkok dapat menularkan virus corona.

Tidak hanya barang dari Tiongkok. Panganan dari Timur Tengah—kurma juga diviralkan bohong. Isinya? Kurma harus dicuci bersih karena  mengandung virus corona yang berasal dari kelelawar. Belum lagi kabar pasien di rumah sakit beberapa di daerah terkena virus yang mewabah ini.

Apa untung dan rugi dari viral berita bohong terkait virus corona? Siap-siap saja pembohong dipidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp1 miliar. Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) mengaturnya. Pidana itu berlaku bagi setiaporang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita yang menyesatkan itu.

Dada Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, pun menjadi sesak dengan berita bohong. Dia mengatakan informasi bohong terkait virus corona berdampak lebih berbahaya dibandingkan virusnya.

“Berita menyebutkan empat orang meninggal dunia (akibat virus corona). Ternyata itu hanya simulasi. Ini berat. Pemotongan skenario dan gambar yang tidak pas, akan menimbulkan kegelisahan banyak orang,” keluh Menteri Terawan di Jakarta, Senin (3/2).

Begitu pun Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate.  Akibat berita bohong yang beredar di media sosial, dia memblokir konten hoaks dan disinformasi. Bahkan melakukan penindakan melalui aparat penegak hukum. Penyebaran berita hoaks corona berasal dari aplikasi WhatsApp.

Menteri Komunikasi dan Informatika serta Menteri Kesehatan angkat bicara. Berita bohong terkait virus corona sangat seirus.

Konten hoaks sangat merugikan. Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian, berharap tidak bereaksi berlebihan terhadap virus corona yang berasal dari negaranya. Negeri Panda, kata dia, mementingkan penanganan wabah virus dan mengambil tindakan yang paling efektif.

Xiao menyadari jika bereaksi berlebihan akan berdampak negatif terhadap perdagangan dan investasi. Tiongkok telah membangun sistem pencegahan dan pengendalian multiarah dan multilevel dari pusat hingga daerah di Kota Wuhan dan Provinsi Hubei.

Tiongkok pun menuduh Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu adalah penyebab kepanikan dan menyebarkan ketakutan terhadap wabah virus corona yang misterius dan mematikan. Di balik itu, pastinya dendam sejak lama Tiongkok dan Amerika mengibarkan bendera perang dagang.

“Amerika adalah negara pertama menyarankan pemulangan sebagian staf kedutaannya. Amerika juga negara pertama memberlakukan larangan pada wisatawan Tiongkok. Dia menciptakan ketakutan, alih-alih menawarkan bantuan signifikan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, Senin (3/2).

***

Ada apa dengan Tiongkok? Virus mematikan yang membuat geger dunia berasal dari Wuhan. Ibu kota Provinsi Hubei, Tiongkok, itu berpenduduk 11 juta dikenal sebagai ‘Kota Chicago’ Tiongkok. Wuhan sebagai pusat tempat industri manufaktur mobil terkenal yang berkembang pesat.

Wuhan juga sebagai jantung industri Tiongkok. Wilayah ini menjadi rumah bagi pabrik-pabrik besar yang memproduksi mobil untuk General Motors, Nissan, Honda, serta merek global dan lokal. Di situ juga ada perusahaan seperti IBM, HSBC, Siemens, Walmart, dan Ericsson.

Semua negara berkepentingan dengan isu corona. Amerika saja sangat jelas sebagai pesaing sekaligus lawan dalam perdagangan dunia. Wabah virus tersebut membuat pasar saham di Tiongkok terjun bebas. Penurunan itu terburuk sejak 2015. Ekonom Tiongkok memperkirakan virus corona akan berdampak signifikan terhadap perekonomian negaranya.

Bahkan wabah virus corona dapat menurunkan pertumbuhan Tiongkok menjadi 5,5% dibanding tahun 2019 sebesar 6,1%. Penurunan itu juga akan berdampak kepada ekonomi dunia. Bank Dunia saja memperkirakan kerugian global mencapai 54 miliar dolar AS.

Bisnis pariwisata dan perdagangan Tiongkok turun drastis. Sebagai negara kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, menghadapi corona sangat kedodoran. Banyak negara menghentikan impor barang, makanan dari Tiongkok. Penerbangan pun disetop. Tiongkok benar-benar terpukul!

Ada apa dengan Tiongkok? Virus mematikan yang membuat geger dunia berasal dari Wuhan.

Kinerja produksi dan ekspor Tiongkok terganggu lantaran negara itu harus berperang melawan virus mematikan. Musibah yang menimpa Tiongkok memberikan peluang bagi Indonesia menyuplai makanan dan minuman ke berbagai negara, menggantikan peran Negeri Tirai Bambu.

Peluang inilah yang perlu dikibarkan bukan menyuguhkan informasi hoaks tentang virus corona ke publik. Masyarakat pers pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarmasin, 8—9 Februari 2020, harus ikut membantu pemerintah juga Tiongkok menyajikan pemberitaan yang optimistis agar musibah itu segera berlalu.

Sosialisasi penanganan wabah dengan masif akan membuat anak bangsa tidak panik menghadapi virus corona. Kendati penyakit mematikan itu sudah menewaskan 500 orang yang tersebar di 28 negara. Dengan sikap optimistis, rakyat akan cerdas dan mengerti apa yang harus dilakukannya ketika negeri ini menghadapi serangan penyakit tidak hanya virus corona.

Janganlah negeri ini seperti Amerika, Malaysia, Kanada, Australia, Italia, juga Irlandia ikut menyebarkan ketakutan dan rasisme menolak bangsa Tiongkok. Sebab, negaranya penyebab utama berkembangbiaknya virus corona. Sebagai bangsa beragama, patut direnungkan hadis Rasulullah saw:  “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Imam Bukhari). Cukup, itu saja. ***

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar