#tumbai#orangabung#megalitik

Perpindahan Seluruh Orang Abung Tanda Usainya Budaya Megalitik

( kata)
Perpindahan Seluruh Orang Abung Tanda Usainya Budaya Megalitik
Foto : Dok Lampost.co

DUA bulan setelah peperangan melawan orang Abung, para pemburu kepala yang kabur dijadikan buronan. Kekagetan mereka sangatlah besar akibat digunakannya senjata api sehingga mereka kabur melewati lembah-lembah yang sulit dilalui. Mereka kemudian menempati suatu tempat yang jauh dari sisi lain pulau.

Tidak seorang pun yang mendengar kabar mereka. Penduduk di dataran Semaka kemudian bersuka cita atas kemenangan perang tersebut.

Cerita nyata dari La Uddin ini tentunya sangatlah penting atas seorang orang Abung di zaman dahulu.

Sementara informasi mengenai pengusiran kelompok utara di Way Luas dan Way Nasal sangat minim. Sehingga petunjuk mengenai sejarah perpindahan orang Abung kelompok tengah dataran tinggi di Kenali dan Way Besai sebagai kesimpulan yang bisa diambil dari cerita orang Paminggir.

Namun, di sana diperoleh berita dengan perincian yang dicatat Marsden pada 1788. Diketahui pada perpindahan secara terpaksa pada zaman dahulu dilakukan orang Abung melibatkan jumlah besar penduduknya. Meski pada waktu itu kemungkinan Buwei belum berdiri, satuan suku, marga-marga melakukan perpindahan wilayah di bawah tekanan peristiwa peperangan.

Pertempuran dari suku Paminggir lama melawan orang Abung memiliki bentuk perang untuk pemusnahan. Hingga bagian paling utara pegunungan ketika kondisi kesukuan sangat tidak jelas, diketahui dulu tak seorang pun dari suku Abung yang kembali ke permukiman lama tersebut.

Jika Van Royen dalam penelitiannya tentang satuan suku di Lampung menyatakan semua pergeseran tradisi di Lampung hanyalah pengembaraan dari satuan terkecil dari keluarga kecil atau marga, hal itu harus dibantah. Penulis hendak menjelaskan semua pengembaraan suku Paminggir, Pubian Abung, dan Belalau, maksudnya ialah Paminggir barat laut dataran tinggi. Ini didasarkan pada pengamatan peristiwa-peristiwa di wilayah tertentu di Lampung.

Pengembaraan di wilayah utara oleh Paminggir di wilayah Rajabasa dan juga perpindahan seluruh Pubian di perbatasan utara permukiman mereka ke selatan dan dari hingga kini terjadi dalam cara seperti ini, keluarga atau marga meninggalkan permukimannya dan kemudian kembali menempati daerah yang agak jauh dari tempat tinggal sebelumnya.

Orang Abung menghindar dari Paminggir lama yang berasal dari pegunungan, Sekala Bkhak. Persebaran selanjutnya Paminggir lama dari wilayah Negabatin-Kenali berlangsung dalam satuan yang cukup kecil. Hanya begitu yang dapat dijelaskan ketika marga tambahan membentuk permukiman baru.

Masa budaya megalitik pembukaan hutan untuk berladang itu selesai dengan perpindahan seluruh orang Abung dari pegunungan. Cerita kebudayaan lain pada bangsa ini ditandai dengan penyesuaian terhadap gaya hidup baru. Permukiman yang baru segera menyesuaikan pengaruh yang datang. Namun, persinggungan dengan budaya Jawa segera terjadi setelah suku-suku Abung tersebut menghuni wilayah dataran rendah.

Supremasi kolonian Sultan Bantam menciptakan metode penanaman baru untuk orang Abung. Dalam waktu yang sama muncul produksi yang sistematis untuk barang-barang perdagangan. Dengan demikian, dibuat dasar untuk pembentukan lapisan masyarakat.

Pembangunan kuno zaman megalitik kini memiliki cara pengembangan baru. Penelitian pembangunan ini dan analisis struktur masyarakat yang baru menunjukkan secara jelas bahwa cara pemikiran gaib dan pembangunan masyarakat zaman megalitik hingga kini masih ada.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke

Berita Terkait

Komentar