#tumbai#orangabung

Perpindahan Orang Abung ke Dataran Rendah

( kata)
Perpindahan Orang Abung ke Dataran Rendah
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

APABILA keterkaitan langsung antara menhir dan perburuan kepala yang umum dilakukan di zaman ini, tidak begitu dikembangkan, kita dapat mengetahui papadon batu itu pada batu ubin ketika tradisi-tradisi suku Abung diketahui dari hal tersebut.

Singgasana batu itu pada zaman megalitik menjadi fokus utama kehidupan masyarakat Abung. Orang yang diterima dalam kelompok pria dewasa itu adalah dia yang berhasil dalam perburuan kepala, menikahi seorang perempuan, dan melewati pesta rakyat ketika dia menyerahkan sebagian hartanya kepada masyarakat dan telah duduk di atas papadon.

Melalui ritual tersebut, yang bersangkutan menyempurnakan hidupnya dengan mengumumkan pelepasan namanya. Kemudian dia menjadi individu baru dalam kehidupan bermasyarakat dan memperoleh nama baru. Dengan demikian, dia menjadi batin di kepala keluarga yang memiliki kedudukan di dewan desa dan wewenangnya merupakan penjaga atas ritual-ritual yang ada.

Pemenuhan atas adat-adat tersebut yang memelihara kesuburan tanah, memungkinkan kelangsungan hidup di lingkungan hutan tropis. Tugas proatin ini tetap ada hingga zaman modern, yakni menjaga ritual-ritual tersebut yang kemudian disebut dengan nama adat.

Demikianlah mengenai apa yang disebut dengan adat, wewenang yang menguasai kehidupan seluruh masyarakat. Hingga masa kini, di satu sisi masyarakat di suku Abung memiliki hubungan darah yang berasal dari satu nenek moyang. Di sisi lain, mereka adalah masyarakat adat atau lebih baik disebut dengan masyarakat budaya.

Demikian ritual batu dan kurban darah, ritual kesuburan, pesta rakyat, perburuan kepala, dan inisiasi menciptakan faktor-faktor ketika kehidupan budaya orang Abung terbangun pada zaman lampau. Setelah kita mengetahui persebaran lama orang Abung dan cara hidup suku tersebut di era budaya megalitik, timbul pertanyaan atas alasan apa bangsa ini meninggalkan tempat tinggalnya dulu.

Seperti diketahui, orang Abung lama adalah bangsa kelompok budaya menengah yang hidup bertani dengan membuka ladang di hutan yang memiliki bentuk budaya berupa tiga faktor, yaitu perburuan kepala, penataan batu, dan kurban kerbau. Hal itu merupakan ciri-ciri yang menandai bangsa yang hidup di pegunungan, seperti suku Naga di semenanjung di Asia Tenggara atau suku yang tinggal di gunung dan suku pribumi di Kalimantan, berbagai kelompok bangsa Dayak.

Orang Abung sekarang tanpa terkecuali mendiami dataran rendah bagian timur tanpa meninggalkan struktur ekonomi lama mereka yang hanya diterapkan di wilayah pegunungan. Perpindahan ke daerah dataran rendah di timur menyebabkan dampak serius bagi kehidupan perekonomian dan keberadaan bangsa ini.

Tentu terdapat alasan yang memaksa bangsa pemburu kepala ini untuk meninggalkan wilayahnya dan kemudian mencari tempat baru di dataran rendah di daerah timur, tempat lingkungannya sangat berbeda dan asing.

Perpindahan dari daerah pegunungan tidak dilakukan semua suku. Sebaliknya, perpindahan itu dilakukan karena desakan atau melarikan diri menuju wilayah yang berbeda-beda. Alasannya berasal dari luar. Suku bangsa yang memusuhi menyerbu wilayah orang Abung.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar