#pendidikan#beritalampung

Asal Usul Perpeloncoan yang Belakangan Acap Memakan Korban

( kata)
Asal Usul Perpeloncoan yang Belakangan Acap Memakan Korban
Perpeloncoan. Ilustrasi/MTVN


Jakarta (Lampost.co) -- Perpeloncoan yang diwarnai dengan kekerasan di lingkungan pendidikan tinggi masih terus terjadi. Terbaru salah seorang Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Gilang Endi Saputra, tewas karena diduga mendapatkan kekerasan saat mengikuti pendidikan dan latihan dasar (diklatsar) Resimen Mahasiswa (Menwa) UNS.

Ilmuwan Diaspora Nottingham University, Bagus Muljadi, menjelaskan asal usul perpeloncoan atau hazing. Budaya itu mulanya kerap ditemui di lingkungan militer hingga klub olahraga.

"Hazing adalah transaksi yang dilakukan individu yang ingin bergabung dalam suatu kelompok. Penyiksaan mental dan fisik yang diderita dapat dilihat sebagai upeti yang diberikan anak muda dalam upayanya beranjak dewasa," kata Bagus dikutip dari Medcom.id, Kamis, 28 Oktober 2021.

Praktik itu menjadi budaya dengan sejarah panjang sejak zaman Yunani purba dan akhirnya termanifestasi di negara-negara barat. Tujuan dari penyiksaan itu untuk menumbuhkan persaudaraan atau relationship through shared vulnerability.

Agar berhasil, hazing sangat bergantung kepada submission to authority. Ketika seorang anggota baru ingin masuk ke dalam sebuah kelompok, dia harus mendemonstrasikan kepatuhan mutlak kepada otoritas.

"Elemen persaudaraan yang kemudian timbul sangat dibutuhkan dalam situasi kritikal, seperti di dalam medan peperangan bahkan pertandingan olahraga juga bisa disebut sebuah peperangan," tuturnya.

Untuk itu, kata dia, perpeloncoan tak hanya hadir di Indonesia. Namun, juga sempat ditemukan di sekolah maupun klub olahraga universitas di Inggris.

"Di Inggris, perpeloncoan sudah dilarang. Biasanya mahasiswa baru yang ingin bergabung dalam klub olahraga dipaksa untuk minum alkohol secara eksesif. Hal ini dilarang di universitas-universitas Russell Group," pungkasnya.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar