#perokokpasif#nuansa

Perokok Pasif

( kata)
Perokok Pasif
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

SABTU (19/10) petang, kabar duka itu datang melalui pesan di grup WhatsApp. Seorang senior di kampus yang usianya masih terbilang muda meninggal dunia setelah empat bulan berjuang melawan kanker paru-paru yang menyerangnya.

Bagi orang awam, mendengar info itu pasti berpikir penyakitnya disebabkan karena kebiasaan merokok. Tapi, tidak, dia bukan perokok! Sejak di kampus, dia tidak merokok.

Bahkan, rekan kerjanya mengatakan bukan hanya tidak merokok, minum kopi pun tidak. Dia hanyalah perokok pasif, yang tanpa sengaja terus menerus menghirup asap rokok dari para perokok aktif.

Gangguan kesehatan akibat rokok bukanlah tidak diketahui. Berbagai sosialisasi akibat asap rokok sudah sering dilakukan. Kemasan rokok pun dilengkapi dengan peringatan bahaya merokok.

Sebuah artikel menuliskan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat lebih dari 7 juta kematian terjadi akibat penyakit yang ditimbulkan oleh asap rokok setiap tahunnya. Sekitar 890 ribu kasus kematian tersebut terjadi pada perokok pasif di seluruh dunia.

Ketika dihembuskan oleh perokok, asap rokok tidak langsung hilang, melainkan bertahan di udara hingga 2,5 jam. Asap rokok tetap ada meski tidak terdeteksi indera penciuman maupun penglihatan kita.

Hal ini juga berlaku di tempat tertutup yang tidak luas seperti di dalam mobil. Bahkan, asap rokok mungkin masih ada dalam jumlah besar meskipun orang tersebut telah berhenti merokok.

Asap tembakau mengandung sekitar 4.000 bahan kimia dan lebih dari 50 di antaranya telah dikaitkan dengan kanker. Perokok pasif dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang kanker paru-paru sebanyak 25%. Di Indonesia, diperkirakan 40 per 100 ribu orang berisiko kanker paru, terutama pria berusia di atas 40 tahun dan perokok aktif.

Kanker paru menyebabkan 27% kematian yang disebabkan kanker atau menjadi penyebab ke-5 dari seluruh penyebab kematian di seluruh dunia. Bahkan, kanker paru menjadi penyebab kematian nomor satu dibanding kanker lainnya yang tidak menyerang pria maupun wanita.

Di beberapa negara, penertiban kawasan bebas rokok benar-benar diterapkan. Pelanggarannya dikenai sanksi denda yang cukup besar. Sementara negara kita masih terus berwacana mengenai kawasan bebas rokok ini. Di berbagai tempat umum, para perokok aktif masih bebas meneruskan aktivitasnya, menyebar racun bagi perokok pasif.

Bagi orang Indonesia yang memegang adat ketimuran, mungkin segan menegur perokok untuk mematikan rokoknya saat di tempat umum. Yang bisa dilakukan hanyalah menjauhi para perokok. Karena itu, kami yang tidak merokok mengharapkan kesadaran kalian para perokok untuk tidak membagikan asap beracun itu.

Semoga pemerintah segera mewujudkan aturan mengenai kawasan-kawasan bebas rokok demi menjaga kesehatan masyarakat.

Nova Lidarni

Berita Terkait

Komentar