#beritalampung#beritabandarlampung#ekbis

Permintaan Meningkat Jelang Natal Membuat Harga Telur Terkerek Naik

( kata)
Permintaan Meningkat Jelang Natal Membuat Harga Telur Terkerek Naik
Ilustrasi. Foto: Dok


Bandar Lampung (Lampost.co): Dinamika harga telur terjadi saat jumlah permintaan berbanding terbalik dengan stok di pasaran. Jumlah permintaan telur ayam ras menjelang perayaan Natal membuat harga di pasaran melambung.

Ketua Pinsar Petelur Nasional Wilayah Lampung Jenny Soelistiani mengatakan saat ini telur ayam tengah mengalami kenaikan harga yang signifikan. Hal ini berkaitan dengan momen Natal dan Tahun Baru 2023 (Nataru), sehingga terjadi peningkatan permintaan baik dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa (Indonesia bagian timur). Dengan kenaikan permintaan yang tinggi, otomatis harga pun ikut naik.

"Selain Nataru, kenaikan ini juga disebabkan oleh adanya kebijakan bansos (penyediaan telur sebagai sembako) yang secara permintaan juga cukup besar. Dimana apabila harus dipenuhi secara serentak memang akan sulit," katanya, Senin, 5 Desember 2022.

Baca juga:  1.007 Guru Lulus Passing Grade Minta Diangkat PPPK

Selain itu, lanjut dia, permintaan telur ayam dari Indonesia bagian timur menjelang Nataru juga lumayan banyak sehingga peternak Jawa Timur banyak yang menyuplai telur ke wilayah Indonesia bagian timur. Sehingga suplai ke Jakarta dan Jawa Barat berkurang dan berusaha menarik stok telur dari peternak Sumatera, khususnya Lampung dan Palembang.

"Biasanya yang kirim ke Jakarta itu dari Medan, Padang, Palembang, dan Lampung. Nah, saat ini Medan itu yang kirim ke Jakarta juga kurang, karena di Medan permintaan telur cukup banyak. Otomatis telur Lampung banyak ditarik ke Jakarta. Biasanya Lampung banyak masuk telur Palembang tetapi sekarang harganya lebih mahal," katanya.

"Jadi kita di Lampung berusaha menahan (stok), supaya harga tidak terlalu mahal, nanti konsumen bisa komplain. Tadi juga sudah diberitahu oleh Dinas Perdagangan, stok lokal (telur) Lampung ini harus terpenuhi," sambungnya.

Jenny menambahkan, produksi telur ayam Lampung sempat turun sekitar 20-30 pada bulan lalu. Namun, saat ini sudah mulai melakukan pemulihan stok.

"Kemarin nasional sempat turun 20-30 persen karena yang tahun lalu semua peternak rugi, hancur harganya. Jadi pemulihannya tidak mudah karena, ayam petelur ini butuh waktu 5-6 bulan untuk bisa kembali bertelur. Ditambah asalnya harga pakan naik dan harga BBM juga naik, jadi otomatis biayanya semakin mahal," ujarnya.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar