#pendidikan#humaniora#inklusi

Perluasan Inklusi Melayani Semua Anak, Merangkul Seluruh Pihak

( kata)
Perluasan Inklusi Melayani Semua Anak, Merangkul Seluruh Pihak
Lektor Kepala Pendidikan Khusus di Sidney School of Education and Social Work, David Evans menyampaikan materi tentang pendidikan inklusi dalam seminar di Sekolah Darma Bangsa, baru-baru ini. (Lampost.co/Delima Natalia Napitupulu)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Setiap anak pada dasarnya memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda. Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, semua sekolah sebaiknya menyelenggarakan layanan pendidikan inklusi.

Model inklusi bukan sekadar mendidik anak berkebutuhan khusus. Hakekatnya pendidikan inklusi adalah mengakomodasi seluruh perbedaan siswa, mulai dari latar agama, kecerdasan, hingga fisik anak.
Hal ini diutarakan oleh Lektor Kepala Pendidikan Khusus di Sidney School of Education and Social Work, David Evans yang menjadi pembicara utama dalam seminar bertema 'Pendidikan untuk Semua' di Sekolah Darma Bangsa, baru-baru ini.

Seminar yang didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Lampung dan IGTKI Lampung itu dihadiri orang tua murid dan guru berbagai TK di Bandar Lampung.

Ia menegaskan inklusi menerima semua perbedaan. "Salah satu cirinya adalah keberadaan rumah ibadah untuk semua agama siswanya. Sekolah ini menyediakan tempat ibadah untuk Islam, Kristen, Hindu, serta Budha," kata David, melalui penerjemah.

Selain agama dan latar budaya, pendidikan inklusi juga memberi ruang bagi anak berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan di sekolah umum. "Jangan fokus pada kekurangan siswa. Guru harus memikirkan apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu peserta didik," kata David.

Guru besar itu menjelaskan suatu kasus anak tuna rungu yang juga mengidap gangguan keseimbangan. Saat usia 3 tahun anak tersebut belum bisa berjalan. Dokter memvonis anak tersebut tidak akan bisa berjalan.
Namun orang tua dan fisioterapisnya tidak mengindahkan vonis dokter. Mereka bekerja sama merawat anak itu. "Berbagai pihak memberikan perhatian sesuai kompetensi dan intuisi mereka," ujar David.

Hingga akhirnya saat anak difabel itu berusia 15 tahun bisa belajar di sekolah umum dan mampu berjalan, meski tidak sesempurna anak lainnya.

Delima Natalia Napitupulu







Berita Terkait



Komentar