#nuansa#Kasus-pembunuhan-anak#pengawasan

Perketat Pengawasan

( kata)
Perketat Pengawasan
Ilustrasi Google Images

Muharram Candra Lugina

Wartawan Lampung Post

KASUS pembunuhan anak kecil yang terjadi di Sawah Besar, Jakarta, cukup menggegerkan warga. Betapa tidak, sang pelaku adalah seorang siswi SMP yang masih berusia 15 tahun. Korban merupakan tetangga pelaku yang juga adalah teman adiknya. Korban ditenggelamkan dalam bak kamar mandi rumahnya. Bahkan, karena hari sudah sore, pelaku sempat menyimpan mayat korban di lemari.

Namun, saat keesokan hari pelaku bingung mencari tempat untuk membuang mayat. Pelaku pun melapor ke kantor polisi kalau sudah melakukan pembunuhan. Hal mencengangkan keluar dari mulut pelaku. Dia mengaku melakukan aksinya dalam kondisi sadar dan tidak menyesal bahkan merasa puas sudah melakukan tindakan pembunuhan.

Dia mengaku apa yang dilakukannya karena terinspirasi oleh film horor yang kerap ditontonnya. Begitu besarnya pengaruh dari film yang ditontonnya mampu memengaruhi mental dan psikisnya. Tontonan kekerasan, perceraian orang tua, dan kondisi prasejahtera memang bisa menjadi faktor-faktor pemicu tersebut. Ditambah lagi dengan pengabaian masyarakat sekitar dan wilayah yang jauh dari tertata.

Sangat miris apa yang telah menimpa diri sang pelaku. Meski perbuatannya dengan menghilangkan nyawa orang lain tidak bisa ditoleransi, penanganannya tidak bisa dilakukan sembarang.

Mengutip tulisan Seto Mulyadi di Opini Lampung Post, Kamis (12/3), bahwa kenyataan adanya pelaku pembunuhan sadis yang masih berusia sangat belia—sulit dimungkiri—memantik dilema. Pada satu sisi, ada kemahfuman bahwa ekspos kasus tidak semestinya sampai menstigma si pelaku. Namun, pada sisi lain, sungguh tak bijak apabila kasus ini dibiarkan luput dari perhatian masyarakat.

Publik memiliki kepentingan untuk mengetahui seluk-beluk kasus ini, termasuk profil pelaku, karena ini menyangkut kepentingan bahkan keamanan publik. Tak kalah pentingnya, publikasi kasus ini tidak sepantasnya berekses pada munculnya—disengaja atau tidak—sikap memuja-muji si pelaku karena sudah berperilaku ekstrem.

Bukan hanya pihak kepolisian yang harus menangani sang siswi, tapi juga membutuhkan pendamping yang bisa membantunya untuk memperbaiki psikis dan mentalnya. Apalagi, dengan usia yang masih "bau kencur", masa depannya masih panjang. Dia butuh perhatian yang lebih agar bisa sembuh dari penyakit hatinya tersebut.

Kasus tersebut bisa menjadi peringatan bagi semua orang tua, terutama dalam mengawasi tingkah dan tindakan sang buah hati. Pengawasan yang lebih ketat perlu lebih ditingkatkan agar anaknya terhindar dari hal negatif yang bisa memengaruhi mental anak. Untuk itu, mendampingi anak saat menonton televisi atau memainkan gawai sangat penting dilakukan. Selain itu, selalu memberikan nasihat apa yang boleh dilakukan dan dilarang dilakukan.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar