#ekbis#keripiklampung#beritalampura

Perjuangan Usaha Keripik Pisang Bertahan di Tengah Pandemi

( kata)
Perjuangan Usaha Keripik Pisang Bertahan di Tengah Pandemi
Perajin keripik pisang kepok di Desa Bumirestu, Kecamatan Abung Surakarta, Tri Misrati, di sentra produksi sekaligus kediamannya, Rabu (2/9/2020). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO


Kotabumi (Lampost.co): Selama pandemi Covid-19, roda produksi industri kecil menengah (IKM) keripik pisang kepok bermerek dagang Elmuna Chips sempat terhenti pada April 2020. Pada Juli 2020, usaha rumahan itu kembali berproduksi dan pelaku usaha optimis reses ekonomi akibat pandemi ini mampu terlewati.

"Saat produksi keripik terpaksa terhenti karena pandemi saya sedih. Sebab, ratusan dus kemasan keripik aneka rasa dari supermarket dikembalikan. Saat itu saya tidak terpikir berapa kerugian yang mesti saya tanggung," ujar perajin keripik pisang kepok, warga Desa Bumi Restu, Kecamatan Abung Surakarta, Tri Misrati, di sentra produksi sekaligus kediamannya, Rabu, 2 September 2020.

Di sentra produksi pada usaha yang didirikan mulai 2018 lalu itu, keripik yang di kemas dengan ukuran wadah plastik sedang dengan berat per bungkus 250 gram yang terbagi dalam enam varian rasa, yakni pedas, karamel wijen, karamel kacang, sale pisang wijen, cokelat, dan jipang pisang.

Harga per bungkusnya dijual Rp15 ribu. Khusus untuk jipang pisang, selain dibungkus plastik, produk juga dikemas dalam wadah toples dengan harga jual Rp20 ribu per toples. 

"Sebelum pandemi, rata-rata penjualan keripik pisang kepok aneka rasa per bulan berkisar 1,5 ton. Saat produksi mulai Juli 2020 lalu, omzet penjualan turun di kisaran 5 kuintal," kata dia.

Dalam sekali produksi, lanjut Tri, sebelum pandemi Covid-19 rata-rata dihabiskan 150 sisir pisang kepok per hari. Setelah pandemi, sekali produksi berkisar 50 sisir pisang, dengan harga beli per sisirnya berkisar Rp6 ribu tergantung kualitas. 

"Keuntungan bersih dari usaha ini sekitar 30 persen setelah dikurangi biaya kerja, bahan baku, dan ongkos produksi," katanya.

Tri mengatakan penjualan hasil produksi dilakukan di toko oleh-oleh dan supermarket di wilayah Bandar Lampung. Selain itu, produksinya rata-rata juga dibeli pelanggan sebagai buah tangan keluarga serta pedagang sekitar Lampung Utara untuk dijual kembali. 

"Saat ini saya memberdayakan tujuh orang tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Saya berharap usaha bisa lebih berkembang dan dapat menjadi saluran berkat untuk meningkatkan ekonomi keluarga bagi masyarakat sekitar sekaligus menjadi media untuk dapat menggali potensi ekonomi kreatif di desa kami," kata dia.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar