#refleksi#virus-corona#covid-19

Pergilah Corona!

( kata)
Pergilah Corona!
Ilustrasi - Medcom.id.

Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

UJIAN nasional, mudik lebaran, pilkada serentak, termasuk urusan ibadah umrah ditunda. Ini semua ini gara-gara virus corona. Wabah Covid-19 kian meresahkan seisi dunia. Lebih dari 182 negara termasuk Indonesia sudah terpapar! Tidak perlu saling menyalahkan. Mari bergandengan tangan, bersatu, bahu-membahu memerangi virus mematikan ini.

Jika wabah Covid-19 ini tidak dicegah dengan baik, pastinya rakyat menjadi panik. Belum lagi ada yang iseng membuat, menyebarkan video atau berita bohong (hoaks) terkait dampak corona. Sebab, virus ini sulit dideteksi. Kapan saja ia akan datang tanpa perlu diundang.

Kepanikan akan sering terjadi ketika anak bangsa menerima informasi bertambahnya jumlah orang yang kena virus corona, terutama jumlah kematian terus meningkat. Lebih dari 3 miliar orang di seluruh dunia berada di bawah pemberlakuan lockdown karena corona.

Ketika banyak negara berupaya melawan pandemi, virus ini tidak mau kalah ikut menewaskan anak manusia yang sudah mencapai angka 20 ribu. Hanya ikhtiar dan doa secara global bisa menghentikan penyebaran Covid-19. Spanyol dan Italia mencatat jumlah korban terbesar— melampaui Tiongkok, di mana virus korona pertama kali muncul pada tiga bulan lalu.

Tak perlu berpolemik dan mencari panggung— menyalahkan corona. Anak bangsa menjadi galau kerap terpancar setiap kali ada berita bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi Covid-19. Bagaimana cara menghentikannya?

Caranya antara lain melarang keras keluyuran di luar rumah. Bekerja, belajar, dan ibadah harus di rumah. Terasa memang—ancaman di depan mata akibat wabah ini. Terjadinya perlambatan ekonomi secara global. Dan, hampir semua negara yang dihinggapi virus Covid-19 membatasi ruang gerak barang, jasa, juga orang untuk beraktivitas dalam dan luar negeri.

Negara yang sehat dari sisi keuangan bisa melampaui bencana virus ini. Tapi, di banyak negara, neraca keuangan tidak sehat lagi. Indonesia adalah contohnya. Semua bahu-membahu mencegah dan menanggulangi dampak Covid-19, yang terjadi adalah merevisi anggaran pendapatan dan belanja.

Caranya antara lain melarang keras keluyuran di luar rumah. Bekerja, belajar, dan ibadah harus di rumah.

Di tengah banyak orang bekerja melawan corona, tapi di sisi lain banyak orang yang egois—mengeruk keuntungan pribadi. Mereka memborong pangan di pasaran. Bisa untuk diri atau keluarganya. Ada juga menjadi spekulan yang mengambil untung dari jualan masker dan hand sanitizer. Parahnya lagi, mata uang dolar Amerika terus perkasa di tengah ancaman Covid-19. Siapa yang mengendalikan ini?

Berharap krisis yang menghantui akibat Covid-19 jangan sampai terjadi krisis di era tahun 1997—1998. Dampak psikologis yang terjadi saat ini adalah semua dibatasi! Ada tembok tebal dan tinggi memisahkan satu sama lain untuk tidak menyapa dan berjarak. Semua diminta mengurung diri.

Temanku mengingatkan, “Kita masih punya Allah.” Minta dan berdoalah agar badai virus corona ini segeralah berlalu. Dampak paling buruk adalah munculnya ketidakpercayaan di tengah masyarakat. Rakyat saling curiga karena tidak nyaman berdekatan. Pertemanan terancam rapuh.

***

Wabah corona menjadi momen bersatu. Mengintrospeksi diri. Selama ini lalai. Egois—tidak peduli dengan orang lain. Saatnya merekatkan kembali—memerangi wabah yang sudah mendunia dengan rasa senasib, karena diserang Covid-19. Dalam situasi mencekam seperti ini untuk saling ingat mengingatkan. Tidak saling meremehkan, juga ingin paling benar sendiri.

Tumbuhkanlah semangat kesadaran kolektif sesama anak bangsa, bahwa virus Covid-19 menjadi momentum membangun kebersamaan. Corona adalah musuh bersama—karena menyangkut keselamatan seluruh anak bangsa. Maka itu pula, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 merekrut ribuan relawan untuk menghadang pandemi virus corona.

Untuk saat ini dibutuhkan sekitar 1.500 dokter yang terbagi spesialis paru, anestesi, serta umum, dan 2.500 perawat, pranata laboratorium, hingga sopir ambulans yang bekerja penuh waktu. Semua ditumbuhkan rasa kepedulian dan kesadaran tinggi guna menghadang wabah corona.

Patut diingat, akibat virus Covid-19, banyak tenaga medis berguguran dibuatnya. Ada enam dokter dan dua guru besar meninggal dunia karena terinfeksi corona. Guru besar epidiemologi FKM-UI, Bambang Sutrisna dan Iwan Dwiprahasto, guru besar Farmakologi UGM menghadapi maut setelah berjibaku menghadapi pasien Covid-19.

Dalam Instagram tulisan Leonita Triwachyuni, putri Bambang Sutrisna, mengingatkan anak bangsa yang meremehkan pendemi Covid-19. “Hari ini makna #dirumahaja yang sebagian dari kalian abaikan dan jadikan lelucon menjadi air mata buat keluarga kami,” tulis Leonita, Senin (23/3).

Luka amat mendalam jelas tergambar dalam kalimat Leonita. Ayahnya yang berjuang habis-habisan, harus pupus karena kecerobohan rakyat karena tidak mengindahkan imbauan pemerintah untuk membatasi gerak di ruang publik. Leonita menulis lagi, “Marah? Jelas saya marah. Karena ada orang-orang egois macam kalian yang tidak mau nurut dan bawa penyakit buat keluarga kita.”

Guru besar epidiemologi FKM-UI, Bambang Sutrisna dan Iwan Dwiprahasto, guru besar Farmakologi UGM menghadapi maut setelah berjibaku menghadapi pasien Covid-19.

Panjang lebar Leonita curhat dalam media sosial milik pribadinya. “Yang menyedihkan buat pasien suspect Covid-19 adalah meninggal sendirian, sesak sendirian, mau minta tolong? Tidak ada perawat berjaga, ruang isolasi tertutup, keluarga tidak bisa lihat. Tahu yang papa lakukan saat sesak semalam? Telepon anak dan menantunya, minta tolong,” cerita dia.

Sampai kapan virus Covid-19 mereda? Tak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Dari hari ke hari, corona kian mengganas. Terbukti, pasien terinfeksi positif terus bertambah begitu juga yang meninggal dunia. Harapannya, corona segera berlalu, lenyap dari negeri ini.

Seperti kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, “Kita dalam situasi perang.” Karena virus ini tidak memadang jabatan, agama, tua dan muda, atau strata sosial. Jadi, apa yang harus dilakukan? Yang jelas, jika tidak mengindahkan imbauan, siap-siap virus corona merayap menggerogoti tubuhmu, menunggu kematian! ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar