#protokolkesehatan#wabahcovid-19#beritalampung#pelabuhan

Perbedaan Penerapan Protokol Kesehatan di Dua Pelabuhan Bakauheni

( kata)
Perbedaan Penerapan Protokol Kesehatan di Dua Pelabuhan Bakauheni
Keadaan protokol kesehatan di pelabuhan reguler bakauheni, tampak petugas penjagaan pintu keberangkatan tidak kenakan masker. Lampost.co/Atika

Bandar Lampung (Lampost.co): Terlihat berbeda dalam penerapan protokol kesehatan secara nyata terjadi di dua Pelabuhan Bakauheni yakni pelabuhan eksekutif dan pelabuhan reguler atau ekonomi.

Dalam pantauan Lampost.co, Jumat, 11 September 2020, terlihat kondisi Pelabuhan Bakauheni di dermaga eksekutif sangat mengutamakan protokol kesehatan mulai dari penyediaan alat cuci tangan, ketersediaan hand sanitizer secara otomatis, hingga alat canggih pemantau suhu tubuh tersedia di pelabuhan eksekutif.

Pemasangan jaga jarak di lantai juga diterapkan di pelabuhan ini. Sehingga calon penumpang yang datang juga telah melihat berbagai peringatan atau tanda jaga jarak, di lantai, kursi, hingga eskalator terpasang tanda jaga jarak.

Sayangnya, penampakan berbeda terjadi di Pelabuhan Bakauheni reguler atau ekonomi. Karena pelabuhan yang berdampingan dengan terminal menjadikan penampakan menjadi semrawut, tercipta di lokasi ini. 

Lokasi keberangkatan dan kedatangan penumpang tampak tak begitu ketat dijaga petugas. Bahkan tak jarang petugas membiarkan penumpang yang hanya mengalungi masker tanpa digunakan untuk menutup hidung dan mulut. 

Di lokasi terminal juga tak terhitung berapa jumlah sopir atau para masyarakat yang mendatangi lokasi di sekitar pelabuhan tanpa menggunakan masker. Bahkan banyak juga yang tidak menerapkan jaga jarak sesuai dengan yang arahan pemerintah yakni minimal sejauh 1 meter. 

Seorang sopir travel, Iwan, mengaku bahwa petugas pelabuhan jarang melakukan teguran dan ketegasan untuk mengingatkan warga sekitar yang ada di pelabuhan untuk menggunakan masker. "Ya biasa saja disini mah gak ketat-ketat banget," kata dia.

Hal yang paling tidak bisa ditoleransi adalah ketika kapal memberikan tanda bunyi yang mengartikan bahwa kapal bersandar, sontak para sopir langsung mengumpul jadi satu di lokasi pintu kedatangan. 

Selang waktu 5 hingga 10 menit setelah bunyi tanda kapal bersandar, puluhan penumpang mulai terlihat memadati pintu kedatangan. Ada yang mencari angkutan travel, ada yang mencari bus arah tujuan Rajabasa, hingga penumpang yang mencari ojek penumpang. 

Tak sedikit sopir travel secara responsif menggandeng tangan para penumpang untuk merebut dari satu penumpang ke penumpang yang lain dan mengarahkan masuk ke mobil travel yang dituju. Tanpa sadar para pemburu penumpang itu tidak menyadari bahwa tangan yang disentuh adalah penumpang yang telah melakukan perjalanan di zona merah Covid-19 yakni Pulau Jawa. 

"Kalau enggak sigap ambil penumpang nanti direbut sopir travel lain, makanya harus cekatan kalau udah mulai turun penumpang," kata Bejo, seorang sopir travel

Di pinggiran pintu masuk pelabuhan juga tampak banyak pedagang kopi dan mi seduh yang berjajar menunggu hadirnya penumpang yang ingin bersantai sembari beristirahat. Namun, penampakan yang sama terjadi, yakni pedagang tersebut mengabaikan bahaya virus Covid-19 yang mengintai karena tidak menggunakan masker. 

Dengan tidak diterapkan secara ketat protokol kesehatan yang ada di Pelabuhan Bakauheni regular ini, tidak menutup kemungkinan klaster baru akan tercipta di lokasi ini.

Sayangnya, belum ada pihak pelabuhan ASDP yang mau menjelaskan bagaimana sistem pengawasan dari pelabuhan untuk terapkan protokol kesehatan baik untuk petugas dan warga sekitar.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar