#tagar#perangtagar#weekend#sorot

Perang Tagar di Medsos

( kata)
Perang Tagar di Medsos
Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)


FENOMENA perang tanda pagar (tagar) di media sosial semakin ramai menjelang Tahun Politik 2019. Sebagian warganet memilih larut dalam perang tersebut. Namun, banyak anak-anak muda yang justru memilih menyingkir. Memunculkan tagar baru yang dinilai lebih menyatukan.

Pemuda yang aktif di media sosial, Dennis Prasetya, menilai perang tagar di media sosial merupakan hal wajar dan sah-sah saja dilakukan di tengah maraknya penggunaan medsos.

Tagar yang kerap dimunculkan di berbagai medsos, seperti Instagram, Twitter, atau Facebook menjadi bentuk ekspresi untuk mengungkapkan suatu pendapat.

"Enggak jadi masalah selama tujuannya untuk kebaikan. Perang tagar boleh saja asal tidak memecah belah persaudaraan apa lagi sampai berantem," kata Dennis, beberapa waktu lalu.

Meskipun menjelang Pemilihan Presiden 2019, perang tagar lebih banyak dimanfaatkan untuk menyampaikan pilihan politik seseorang. Namun, sebagai anak muda, Dennis mengaku tidak ingin terbawa arus atau asal ikut-ikutan.

"Kalau aku pribadi enggak mau ikutan perang tagar. Tapi itu hak masing-masing. Kalau di medsos aku lebih memilih netral, enggak mau menunjukkan sikap," ujarnya.

Hal itu dilakukan untuk menjaga pertemanan di media sosial. Sebab, menurut Dennis antarteman bukan tidak mungkin memiliki pilihan atau pandangan berbeda.

"Aku enggak mau menunjukkan sikap politik di medsos. Lebih baik keliatan netral saja. jangan gara-gara tagar pertemanan jadi rusak, emosi dan musuhan," kata dia.

Sementara menurut Lidya Agusta, salah satu selebgram Lampung, aksi perang tagar kerap ditemukan saat bermain media sosial. Meski hanya tanda, menurut Lidya, dengan masifnya penggunaan tagar yang sama bisa berpengaruh pada orang lain yang ikut membaca.

"Tagar bisa menggiring opini seseorang dan memengaruhi viewer atau follower yang ada di media sosialnya," ujar pendiri komunitas Putri Hijab Menejemen itu, beberapa waktu lalu.

Lebih Santun

Menurut Lidya, pengguna media sosial juga perlu lebih santun dan bijaksana dalam menggunakan tagar yang akan dituliskan di akun media sosialnya. "Jangan cuma ikut-ikutan, tetapi perlu menilai tagar tersebut, apakah membawa kebaikan atau justru keburukan," kata dia.

Selain santun, menurut dia, anak-anak muda sebaiknya menghindari saling hujat dan serang di media sosial. Warganet seharusnya lebih sering menebarkan tagar positif seperti #nojudgement yang belakangan menjadi trending.

"Kita harus bisa menilai apakah tagar tersebut akan berdampak positif atau negatif. Karena, di media sosial tagar adalah salah satu sarana promosi sebuah gagasan atau pengaruh," ujarnya.

Nur Jannah







Berita Terkait



Komentar