#ekonomisyariah#keuangansyariah#ojk

Peran Pesantren Dibutuhkan untuk Dorong Ekonomi Syariah

( kata)
Peran Pesantren Dibutuhkan untuk Dorong Ekonomi Syariah
Ilustrasi. Dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ekonomi dan keuangan syariah berpeluang untuk berkontribusi dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional. 

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung, Bambang Hermanto, mengatakan, peran jasa keuangan sangat krusial sebagai katalis penggerak dalam memulihkan perekonomian.

"Termasuk peran sektor ekonomi dan keuangan syariah," kata Bambang, Selasa, 17 Maret 2021.

Menurutnya, perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia sudah cukup diapresiasi dunia internasional. Sepanjang 2020, Indonesia diakui sebagai salah satu negara dengan progres terbaik dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui Refinitiv Islamic Finance Development Report 2020. Indonesia menduduki ranking 2 secara global sebagai The Most developed countries in Islamic Finance.

"Namun demikian, beberapa tantangan harus segera diatasi, salah satunya adalah masih rendahnya literasi keuangan syariah yaitu sebesar 8,93 persen, jauh tertinggal dibandingkan indeks nasional sebesar 38,03 persen," kata dia. 

Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah yang sebesar 9,1% juga masih jauh ketimbang indeks nasional sebesar 76,2%.  Khusus di Provinsi Lampung, indeks literasi keuangan syariah hanya sebesar 2,10%. Sementara indeks inklusi keuangan syariah sebesar 5,77%.

"Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama memiliki potensi besar untuk memberdayakan umat dan berperan dalam mengikis kesenjangan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan, khususnya bagi masyarakat di sekitar," kata Bambang. 

Pesantren, kata dia, menjadi salah satu fungsi strategis dalam pendampingan untuk mendorong perekonomian masyarakat. Selain itu, pesantren juga memilki tanggung jawab yang besar dalam menggerakkan ekonomi syariah secara inklusif.

"Saat ini sudah semakin banyak pesantren yang mengembangkan diri di bidang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan menciptakan berbagai jenis produk kreatif dan berdaya saing. Akan tetapi, dengan adanya pandemi covid-19 ini, beberapa pesantren tentu saja menghadapi tantangan yang lebih berat, khususnya bagi pesantren yang masih melakukan penjualan secara langsung/tatap muka kepada para konsumennya," kata dia. 

Permasalahan yang masih dihadapi pelaku UMKM di pesantren antara lain persoalan sumberdaya manusia (SDM), proses produksi, hingga minimnya pengetahuan terkait teknologi informasi. 

"Untuk itu OJK hadir dalam memberikan pemahaman dan upaya peningkatan UMKM dalam pesantren," tutup Bambang.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar