#kpk#korupsi

Peran Eks Direktur PT Lampung Jasa Utama di Kasus Azis Syamsuddin Didalami

( kata)
Peran Eks Direktur PT Lampung Jasa Utama di Kasus Azis Syamsuddin Didalami
Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin usai diperiksa KPK. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Nama Aliza Gunado mencuat setelah KPK menetapkan Azis Syamsuddin sebagai tersangka. Aliza Gunado adalah orang kepercayaan Azis Syamsuddin, sekaligus mantan Direktur Binis PT Lampung Jasa Utama (BUMD Pemprov Lampung).

Saat ini Aliza masih berstatus saksi, belum ada peningkatan sebagai tersangka, meski ada komitmen antara Aliza dan Azis untuk menyerahkan uang masing-masing Rp2 miliar ke eks penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju.

Baca juga: Rekam Jejak Azis Syamsuddin, Tersangka Kasus DAK Lamteng

"Saya ingin sampaikan status AG, status saksi atau tersangka harus berawal dari keterangan saksi dan bukti-bukti," ujar Ketua KPK Firli Bahuri, Sabtu, 25 September 2021.

Menurut Firli, penetapan status Aliza sebagai tersangka, KPK harus melengkapi alat bukti terlebih dahulu. KPK terus melanjutkan penyelidikan dan penyidikan Aliza Gunado

"Kalau seandainya ditemukan keterangan dan bukti, kita menemukan tersangka lain, ya kita jadikan tersangka," katanya.

Konstruksi perkara ini bermula pada sekitar Agustus 2020, Azis menghubungi eks penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju, untuk mengurus kasus yang melibatkan dirinya dan Aliza Gunado selaku orang kepercayaan Azis.

Kemudian Robin menghubungi seorang lawyer bernama Maskur Husain untuk mengurus perkara tersebut. Kemudian Maskur meminta Azis dan Aliza menyiapkan masing-masing uang Rp2 miliar.

Robin juga menyampaikan langsung ke Azis terkait permintaan uang tersebut dan disetujui Azis. Kemudian Maskur meminta uang muka Rp300 juta terhadap Azis.

"AZ mengirmkan uang ke rekening MH secara bertahap," katanya.

Masih pada Agustus 2020, Robin mendatangi rumah dinas Azis Syamsudin di Jakarta Selatan. Robin menerima uang dari Azis tiga kali, yakni 100 ribu dolar Amerika, 17.600 dolar singapura, dan 140.500 dolar singapura.

"Uang asing tersebut ditukarkan oleh SRP dan MH ke money changer dengan menggunakan identitas pihak lain, sebagaimana komitmen awal pemberian uang dari AZ ke RSP dan MH Rp4 miliar, dan telah direalisasikan Rp3,1 miliar," paparnya.

Sekitar 20 orang saksi diperiksa dan diperkuat dengan alat bukti, penyidik akhirnya menahan Azis mulai 24 September sampai 13 November 20217, di Rutan Polres Jakarta Selatan.

Winarko







Berita Terkait



Komentar