#korona#jamu

Perajin Jamu Instan Panen Rezeki di Tengah Pandemi Korona

( kata)
Perajin Jamu Instan Panen Rezeki di Tengah Pandemi Korona
Caption; Nuryani, pengrajin jamu instan, rumahan warga Desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi, mengemas produk jamu instan rumahan dikediamannya, Rabu (1-4-2020). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO


Kotabumi (Lampost.co) -- "Kami sampai kewalahan mas, membuat jamu instan untuk memenuhi pesanan pelanggan dari berbagai daerah, seperti; Lampung, Jakarta, Tangerang, Bekasi hingga Jambi," ujar Nuryani, perajin jamu instan, rumahan warga Desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi, dikediamannya, Rabu, 1 April 2020.

Dia mengatakan saat ini penjualan jamu instan yang diproduksinya naik 10 kali lipat dari omzet penjualan jamu sebelum wabah korona terjadi.

"Kalau harga kami tidak naikkan. Untuk satu pack kecil jamu instan siap sedu dihargai Rp7.500, dan dalam satu pak kecil, ada lima bungkus kecil, kalau pack besar terdiri dari 200 bungkus kecil," ujarnya.

Untuk jamu instan yang paling diminati pelanggan, yakni;  temulawak plus dengan bahan baku, temulawak, kunyit, kapulaga dan kayumanis.

Selain itu, minuman wedang jahe berbahan jahe, sereh dan kapulaga juga juga di buru pelanggan.

"Keuntungan produk olahan jamu instan ini, bisa 50 persen mas, yang penting telaten" kata dia.

Hal yang sama, juga dirasakan pengrajin jamu instan lainnya. Musyanti, perajin jamu warga Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi, dikediamannya mengaku seminggu rata-rata menjual jamu instan berbahan jahe, temulawak, kencur dan gula aren 10 kg perminggu.

"Jamu instan yang  saya jual  yang di kemas ukuran 100 gram dengan harga jual  Rp12 ribu dan sejak ada wabah korona, pesanan jamu saya melonjak," tuturnya.

Dia berharap, industri jamu instan rumahan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan.

"Dengan mengkonsumsi hasil produk herbal dalam negeri, secara tidak langsung konsumen mendorong pengrajin jamu untuk terus berkreasi mengolah kekayaan rempah-rempah guna disajikan menjadi minuman khas berkhasiat" kata dia.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar