#hargasingkong#ekbis#beritalampura#berastiwul

Perajin Beras Tiwul di Lampura Terkendala Bahan Baku

( kata)
Perajin Beras Tiwul di Lampura Terkendala Bahan Baku
Warga mengupas singkong sebelum diolah menjadi tiwul (beras dari singkong). Foto : Yudhi Hardihanto


KOTABUMI (Lampost.co) -- Dampak kemarau, perajin tiwul di Kabupaten Lampung Utara mengeluh kurangnya pasokan bahan baku, yakni singkong.

Yuyung, perajin tiwul warga Desa Abungjayo, Kecamatan Abung Selatan, dikediamannya, Jumat, 6 September 2019 mengatakan pada musim kemarau ini, pasokan bahan baku, yakni singkong asalan untuk pembuatan tiwul tersendat. "Selama kemarau,  saya kesulitan mencari bahan baku. Kalaupun ada, singkong yang di dapat kecil-kecil itupun harganya lebih tinggi jika di banding saat musim penghujan," ujarnya.

Terkait produktivitas pembuatan tiwul, dia mengaku, sebelumnya pasokan bahan baku untuk pembuatan sehari sekitar 1 kwintal singkong. Harga perkilo singkong baik dari lapak maupun petani yang datang langsung ketempatnya  sekitar Rp800 - Rp1.000/kg.

Dari 1 kwintal singkong yang diolah menjadi tiwul tersebut, rata-rata akan di peroleh hasil sekitar 40 kg tiwul bersih dan harga perkilo, tiwul di bandrol Rp13 ribu/kg. "Sudah seminggu terakhir saya tidak berproduksi mas. Pada hari ini, saya baru mendapat pasokan bahan baku singkong dari petani sekitar 50 kg dengan harga perkilo lebih tinggi Rp1.100/kg dan saya tetap mengolahnya walaupun dengan jumlah tersebut, tidak memenuhi kuota untuk produksi tiwul disini," kata dia.

Terkait penjualan, dia mengaku, tiwul yang di produksi di ambil langsung pedagang untuk di jual lagi ke konsumen dan biasanya, semua hasil produksi langsung habis di beli. Hanya saja pada musim kemarau ini, saya hanya bisa berharap. "Pada musim ini saya lebih banyak menghentikan aktivitas produksi tiwul, karena kurangnya pasokan bahan baku, kalaupun ada harga yang ditawarkan kadang lebih tinggi dan tidak masuk pada beban biaya produksi sedangkan kalau menaikkan harga tiwul saat ini juga bukan solusi karena,  produksinya di beli pedagang untuk di jual kembali," tuturnya.

Yudhi Hardiyanto







Berita Terkait



Komentar