#narkoba#ekstasidomino#beritalampung#sabu

Penyelundupan Ribuan Ekstasi Domino Jaringan LP Digagalkan

( kata)
Penyelundupan Ribuan Ekstasi Domino Jaringan LP Digagalkan
Barang bukti dan pelaku yang diamankan. Foto: Asrul Septian Malik

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Ribuan pil esktasi domino kembali beredar di Provinsi Lampung setelah sebelumnya 23 butir ditemukan oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung. Kali ini, ekstasi asal Eropa tersebut diungkap oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung.

BNN mengamankan 1.200 butir ekstasi yang dibungkus dalam tiga kantung teh Tiongkok bersama 3 kg sabu pada 20 Agustus 2019. Dari kasus tersebut tiga pelaku ditangkap, bahkan dihadiahi timah panas karena melawan dan hendak melarikan diri.

Pelaku yakni, Mukhlis (45) warga Lingkaran Kuta, Kecamatan Gandapura, Aceh selaku kurir. Kemudian Maryono (47), warga Ikan Julung, Skip Rahayu, Bumiwaras, Bandar Lampung selaku kurir penerima dan Sahrul Efendi (40) seorang narapidana, warga Jalan Yos Sudarso, Gang Cendana Bumiwaras yang berperan sebagai pengendali.

Kepala BNNP Lampung Brigjenpol Ery Nursatari, mengatakan pengungkapan kasus tindak pidana narkotika jenis sabu dan ekstasi berawal dari Rabu, 19 Agustus 2019, Tim Pemberantasan BNNP Lampung mendapatkan informasi bahwa akan adanya pengiriman narkoba ke wilayah Lampung. Tim segera melakukan persiapan dan bergerak cepat.

Tim 1 melakukan profiling terhadap target yang diduga penerima/gudang yang di sekitar Gang Mawar, Kelurahan Bumiwaras. Tim 2 melakukan profiling di sekitar pintu masuk Kota Bandar Lampung melalui bundaran Tugu Raden Intan, Hajimena, Natar.

Selanjutnya sekitar pagi hari pukul 07.10 Tim 1 mulai melihat target mengendarai sepeda motor keluar dari Gang Mawar menuju arah Rajabasa untuk melakukan transaksi dengan kurir dari Aceh. Target memasuki Hotel Malaya di sekitar Rajabasa.

Ketika target memasuki salah satu kamar, Tim langsung melakukan penangkapan terhadap target penerima dan target pembawa barang dari Aceh. Di kamar tersebut Tim mengamankan kedua tersangka bersama barang bukti 3 bungkus teh Tiongkok yang berbobot 3 kg.

Setelah melakukan interogasi terhadap tersangka, ternyata penerima diperintah dan dikendalikan oleh seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Tim berkoordinasi dengan pihak Lapas dan mengamankan narapidana tersebut. "Karena melawan, terpaksa diambil tindakan tegas terukur dan terarah. Barangnya dari Aceh, jaringan Lapas," ujarnya.

Sayangnya Kepala BNN, enggan memaparkan asal LP mana barang haram tersebut, dengan alasan jaringan masih dalam pengembangan.

Asrul Septian Malik

Berita Terkait

Komentar