#burungilegal#penyelundupan

Penyelundup Ribuan Ekor Burung Dijerat Pasal Berlapis

( kata)
Penyelundup Ribuan Ekor Burung Dijerat Pasal Berlapis
Ribuan burung tanpa dokumen di KSKP Bakauheni. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Aparat penegak hukum lintas instansi menjerat YF warga Sukoharjo, Pringsewu sebagai pelaku penyelundupan 1.090 ekor burung liar dengan pasal berlapis. 

YF, pemilik burung diamankan bersama supirnya berinisial AS oleh Tim Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Sumatera, bersama Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, BKSDA SKW III Lampung, Balai Karantina Kelas I Bandar Lampung, dan Korwas PPNS Polda Lampung, pada 2 Maret 2021 lalu.

Atas tangkapan itu, PPNS Gakkum KLHK menetapkan YF sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 21 Ayat (2) Huruf a Jo. Pasal 40 Ayat (2) Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dengan ancaman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp100 juta.

Selain itu PPNS Balai Karantina Pertanian juga menjerat YF dengan Pasal 88 Huruf a dan c UU No 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dengan ancaman penjara maksimal 2 tahun dan denda Rp2 miliar.

"Penerapan pidana berlapis ini untuk meningkatkan efek jera. Pelaku kejahatan terhadap satwa liar harus dihukum seberat-beratnya. Lingkungan hidup dan hutan termasuk satwa liar sebagai kekayaan bangsa Indonesia yang harus dilindungi," ujar Kepala Seksi III Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, M. Hariyanto, Jumat, 5 Maret 2021.

Dari pemeriksaan, YF berdalih baru dua kali memasok burung dilindungi tanpa dilengkapi dokumen. Modusnya dengan mengumpulkan berbagai burung dari Sumatera secara bertahap untuk dikirim ke Jawa.

Dia menjelaskan, penangkapan itu berawal dari informasi jika adanya pengangkutan satwa liar ilegal. Untuk itu aparat terkait melakukan penyelidikan hingga ditangkapnya YF sebagai pemilik burung dan AS (24) sebagai pengemudi mobil, di area Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. 

Sementara, ratusan ekor burung dari perkara tersebut langsung dilepasliarkan di kawasan Hutan Tahura Wan Abdul Rahman, pada 3 Maret 2021.

Hasil identifikasi jenis burung yang tidak dilindungi dilepasliarkan sebanyak 678 ekor, yaitu burung Pleci 210 ekor, Jalak kebo 150 ekor, Pentet 75, Cerucuk 60 ekor, air mancur 20 ekor, Sikatan Rimba Dada Coklat 6 ekor, Sikatan Kerongkong Putih 6 ekor, Siri-siri 17 ekor, Kepodang 39 ekor, Poksai Mandarin 40 ekor, Sikatan Bakau 9 ekor, Cucak Biru 22 ekor, Tepuk Lurik 8 ekor, Kepodang Dada Merah 2 ekor, Cucak Janggut 8 ekor, dan Poksai hitam 6.

Sementara untuk jenis dilindungi sebanyak 154 ekor saat ini dititipkan untuk proses rehabilitasi di Pusat Penyelematan Satwa Lampung. Burung-burung tersebut sebagai barang bukti penegakan hukum.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar