#beritalampung#beritalampungterkini#pemilu2024#penyandangdisabilitas

Penyandang Disabilitas Turut Jadi Pengawas Pemilu

( kata)
Penyandang Disabilitas Turut Jadi Pengawas Pemilu
Wawan (kanan) dan Ade (kiri) saat mengikuti sosialisasi pengawasan pemilu partisipartif di Wood Stair Cafe, Kamis, 17 November 2022. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Para penyandang disabilitas di Bandar Lampung untuk dapat aktif mengawasi pelaksanaan Pemilu 2024 yang tahapannya sudah mulai saat ini. Beberapa warga yang memiliki keterbasatasan tersebut menceritakan suka dukanya sebagai pemilih maupun mengawal jalannya pesta demokrasi.

Wawan Setiawan (50), warga Bandar Lampung misalnya, mengaku meski memiliki keterbatasan dan beraktivitas menggunakan kursi roda, yakin bisa membantu penyelenggara untuk mengawasi jalannya pemilu.

Dia yang tergabung dalam perkumpulan disabilitas di Lampung mengaku sudah aktif sebagai pengawas partisipatif sejak Pemilu 2019.  Akses memilih bagi kaum disabilitas saat ini sudah cukup.

"Sekarang askes (disabilitas) sudah enak, kalau dulu susah. Apalagi saat ini sudah ada perkumpulan, jadi ada hal-hal yang kami inginkan kini bisa disampaikan langsung ke KPU, misalnya untuk akses pengguna kursi roda dan lain-lainnya," ujarnya saat menghadiri sosialisasi pengawasan pemilu partisipatif yang diselenggarakan Bawaslu RI dan Bawaslu Bandar Lampung di Wood Stair Cafe, Kamis, 17 November 2022.

Meski ada keterbatasan untuk memantau jalannya Pemilu 2024, tak menutup semangat mereka untuk mengawasi pesta demokrasi tersebut. "Saya aktif juga nanti melaporkan temuan, mencatat dan membahasnya dengan perwakilan kemudian baru kami laporkan, walau ada kesulitan saya coba saja," katanya.

Baca juga: Nomor Urut Parpol Tak Diubah Dinilai Abaikan Asas Keadilan 

Dia menyebutkan saat pelaksanaan pemilu sebelumnya pernah memfoto adanya temuan dugaan pelanggaran atau kecurangan. Namun, dia hanya melaporkan temuan tersebut ke RT setempat, tapi menyayangkan tidak adanya respons atas pelaporan tersebut.

"Kalau sekarang saya punya prinsip, foto-foto semua dan laporkan ke KPU atau Bawaslu. Kalau waktu itu (lapor RT) kayak cuek-cuek saja gitu," kata pria yang berprofesi sebagai tukang servis elektronik tersebut.

Penyadang disabilitas lainnya, Ade Yusiah (54), penyandang tunanetra, mengaku sering mengikuti sosialisasi dan aktif dalam pengawasan partisipatif. Dia mengatakan masih ada kekurangan yang menjadi kendala kelompok disablitas, baik sebagai pemilih maupun pengawasan.

"Harapan kami diberikan kesempatan yang lebih detail lagi terkait informasi yang berkembang di masyarakat (terutama dalam pemilu)," kata wanita berhijab yang tergabung Himpunan Wanita Penyandang Disabilitas (HWDI).

Muharram Candra Lugina








Berita Terkait



Komentar