ispabandarlampung

Penyakit ISPA Mengancam Warga Campang Raya

( kata)
Penyakit ISPA Mengancam Warga Campang Raya
Jalan di Campang raya penuh debu. Lampost.co/Deta Citrawan


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Warga yang berada di Jalan Alimudin Umar, Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung terancam untuk terdampak penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Pasalnya jalan kota yang berada di lingkungan setempat menjadi perlintasan bagi kendaraan muatan besar, yang berlalu lalang sembari membawa muatan berupa tanah dan batu. 

Seperti dikatakan oleh Bambang (34) salah seorang warga setempat di RT08, Lingkungan 1, Kelurahan Campang Raya. Mengeluhkan adanya aktifitas pengangkutan material yang akibatnya menimbulkan debu sepanjang Jalan tersebut.

Dirinya yang memiliki usaha warung makan pun harus waspada dengan debu yang bertebaran sampai ke pinggir jalan. Bahkan ia harus melapisi bagian samping dan depan warung dengan plastik berukuran kurang lebih 1 x 1,5 meter.

"Disini parah debunya mas, banyak yang jualan juga di sepanjang jalan Alimudin kalau enggak pakai plastik ini kena debu makanan ganggu juga yang makan. Kalau orang tua enggak seberapa, tapi banyak anak-anak ini kasian," ujarnya, Kamis 19 November 2020.

Menurutnya, telah lama hal ini menjadi keluhan warga di wilayah setempat. Sebab aktifitas pengerukan bukit atau galian C yang menjadi penyebab utama telah berjalan selama satu tahun belakangan ini.

"Kami ini juga pengen hidup nyaman, enak duduk, makan, tapi banyak debu seperti ini jadi masalah juga. Kegiatan galian itu sudah ada satu tahun ini. Bahkan pernah ada hampir kecelakaan di tabrak mobil puso karena jalan nya memang jelek berlubang, seringlah disini kecelakaan, bukan cuma debu saat hujan juga sering kecelakaan," ungkapnya. 

Dirinya menjelaskan, pada bulan lalu bersama kelurahan dan perwakilan pemilik tempat galian C telah mengadakan rembuk pekon. Guna mencari solusi bersama akan keluhan yang dirasakan oleh warga selama ini, namun sampai sekarang belum terdapat realisasi dari beberapa point yang menjadi persetujuan saat rembuk tersebut.

"Rembuk pekon bulan kemarin ada beberapa point kesepakatan satu mobil angkutan harus ditutup, kedua dalam seminggu dua kali ada penyiraman supaya tidak ada debu, tiga pihak galian c ada jalan yang lubang agar di timbun pakai batu dan tanah, lalu setiap mobil dumb dilarang angkut muatan, mobil kecil harus ada tutup tambahan papan sehingga material tidak jatuh ke jalan, waktu rembuk pihak perusahaan ada mereka menyanggupi tapi tidak ada realisasi," jelas Bambang. 

Hal demikian juga dikatakan oleh warga lainnya, menurutnya kondisi jalanan berdebu menjadi keluhan utama bagi warga di sepanjang jalan Alimudin Umar. 

"Ini juga agak lumayan karena kemarin dari hujan, kalau biasanya lebih parah, debunya tebal kayak kabut, mau jualan makanan pinggir jalan juga khawatir takut enggak ada yang beli karena banyak debu," kata salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.  

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar