#pelecehanseksual#asusila

Pentingnya Seks Edukasi untuk Cegah Pelecehan Seksual

( kata)
Pentingnya Seks Edukasi untuk Cegah Pelecehan Seksual
Ilustrasi Medcom.id


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang oknum guru di salah satu SMPN di Bandar Lampung menjadi bukti bahwa pelecehan terhadap anak harus menjadi perhatian serius.

Menanggapi hal tersebut, konselor pendidikan dan individu anak Universitas Lampung (Unila), Citra Abriani maharani mengatakan, pencegahan yang dimulai dari edukasi seksual dapat mencegah hal yang tidak dingiinkan agar tidak terjadi.

“Edukasi apa saja yang perlu diinformasikan ke anak dan remaja? Mulai dari edukasi mengenai area tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh terutama dengan orang dekat,” katanya, Selasa, 15 Maret 2022.

Selanjutnya adalah orang tua, masyarakat, dan pihak sekolah juga perlu melatih keterampilan melindungi diri atau self protection skill. Mulai dari menghindar sampai dengan berani berkata tidak dan menolak, termasuk dengan orang yang dihormati seperti ayah, saudara, atau guru.

“Sebagian korban berpikir bahwa predator adalah orang yang tidak pernah terlintas dalam pikiran, bahwa ia tega melakukan kejahatan seksual, ini perlu diinformasikan termasuk ayah, saudara, atau gurunya sekalipun,” jelasnya.

Menurut Cita jika anak sudah menjadi korban pelecehan seksual maka yang dibutuhkan adalah pendampingan atau dukungan psikologis dari orang terdekat.

“Ini juga menjadi catatan penting, seringkali yang membuat korban semakin terpuruk adalah rasa malu apalagi pelaku adalah orang terdekat, rasa takut menghadapi masa depan, ini membuat korban seringkali sulit untuk move on, kemudian respon lingkungan (stigma negatif) yang kadang memperburuk kondisi psikologis korban,” tuturnya.

Ia menjelaskan kalau kasus pelecehan seksual ini seperti fenomena gunung es, kasus yang sebenarnya terjadi lebih tinggi dibandingkan kasus yang dilaporkan.

“Untuk itu pemerintah disini perlu bersikap tegas dan mendukung penuh untuk menyelesaikan kasus pelecehan hingga tuntas. Berdasarkan kasus yang ada, korban tidak melanjutkan penyelesaian hukum hingga tuntas karena merasa lelah, dan kecewa akan ketidaktegasan hukum,” terangnya.

Dalam hal ini menurut Citra, pemerintah juga perlu berkolaborasi dengan masyarakat, dan berbagai pihak untuk mengubah mindset masyarakat,sehingga bisa menghilangkan stigma negatif masyarakat ketika ada korban kekerasan seksual, sehingga korban merasakan keadilan baik secara hukum dan sosial.

Terakhir ia mengatakan untuk menghilangkan luka korban akan trauma pelecehan, masyarakat bisa menciptakan budaya "peduli" dalam mencegah kekerasan seksual.

“Bisa diawali dalam bentuk sosialisasi di masyarakat terkait edukasi seksual, dan ketika ada anggota masyarakat yang mengalami kekerasan seksual, maka sampaikan bukan ditutupi karna khawatir akan stigma negatif dari masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar